Jumat, 06 Mei 2011

PENDEKATAN TAZKIYAH

I. PENDAHULUAN
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu selama kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT.

Baca Selengkapnya
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengembangan potensi kreatitif peserta didik, bertujuan untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., cerdas, terampil, memiliki etos kerja yang tinggi, berbudi pekerti luhur, mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya, bangsa dan negara serta agama. Proses ini sendiri sudah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia. Apabila potensi tersebut tidak dikembangkan, maka niscaya akan kurang bermakna dalam kehidupan. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan pengembangan itu senantiasa dilakukan dalam usaha dan kegiatan pendidikan.
Islam memandang bahwa pendidikan bukan saja merupakan proses transfer dan transformasi sosial secara Islami, tetapi juga merupakan suatu amanah yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia dunia dan akhirat melalui proses pembentukan manusia muttaqin agar dapat memperoleh ridha Allah swt dalam hidupnya. Jadi pendidikan Islam berfungsi untuk membentuk manusia yang bertakwa kepada Allah swt. Dengan kata lain mempunyai ilmu pengetahuan dan keterampilan, juga memiliki kemampuan pengembangan diri, bermasyarakat, dan memiliki kemampuan bertingkah laku berdasarkan norma-norma susila menurut pendidikan Islam. Pendidikan Islam pada dasarnya melatih kepekaan para peserta didik, sehingga sikap hidup dan perilakunya didominasi oleh perasaan mendalam terhadap nilai-nilai etis dan spiritual Islam. Latihan itu bertujuan agar para anak didik mampu mencari pengetahuan yang tidak sekedar untuk memuaskan keingintahuan intelektual mereka atau hanya untuk meraih keuntungan dunia material belaka, tetapi juga untuk mengembangkan diri sebagai makhluk rasional dan saleh yang kelak akan memberi kesejahteraan fisik, moral dan spiritual bagi keluarga, masyarakat dan umat manusia. Untuk mencapai idealitas pendidikan Islam tersebut tidaklah mudah, selain karena proses pendidikan itu sendiri selalu terkait erat dengan lingkungan pergaulan, bahkan terasa semakin beratnya jika anak didik sendiri tidak memiliki motivasi yang cukup baik untuk belajar pendidikan Islam.
Paradigma pendidikan yang berjalan selama ini terasa sekali menggunakan pendekatan rasionalistik dan positifistik. Pendidikan hanya sebatas didekati secara rasional dan dikembangkan atas dasar data empirik. Akibatnya, pendidikan berjalan secara mekanistik. Manusia diberlakukan bagaikan mesin, dan—lebih parah lagi—didekati secara birokratis. Kepala sekolah, guru, kepala tata usaha, dan juga murid, dikemas dalam sebuah sistem yang sangat terstruktur dan kaku. Padahal, manusia memiliki berbagai dimensi yang menuntut pengembangan secara khas dan luwes—bentuk perlakuan yang berbeda dari pola pengembangan manusia yang berbasis pandangan positivistik-empirik. Kehidupan manusia perlu ruang untuk berkreasi dan beraktivitas secara longgar.
Mengikuti al-Qur’an, misalnya Qs. Al-Baqarah, 2:29, dan mengikuti fungsi pendidikan Rasulullah, adalah bahwa pendidikan dijalankan melalui empat tahapan atau dimensi, yaitu mengajak melakukan (1) tilâwah, (2) tazkiyah, (3) ta’lîm dan (4) hikmah. Proses tilâwah adalah aktivitas untuk memahami fenomena jagad raya ini. Para anak didik diantarkan untuk memahami lingkungan sebagai ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Secara operasional, bentuknya mungkin, berupa pendidikan bahasa, berhitung, membaca dan menulis, serta pengetahuan lain, dari satu tahapan ke tahapan berikutnya dalam lingkup dan wilayah yang lebih luas. Mendidik sesungguhnya juga harus dimaknai mensucikan hati, ialah tazkiyah. Dalam kontek ini anak didik dijaga jangan sampai melakukan kebohongan, mengkonsumsi makanan yang tidak halal, diperkenalkan cara bersyukur, bersabar, ikhlas, dan istiqamah. Selanjutnya, anak didik diperkenalkan Kitab Suci dan juga tentang kearifan atau hikmah. Proses tazkiyah, pengenalan Kitab Suci— apalagi kearifan—adalah wilayah yang melampaui taraf rasional maupun positifistik. Dalam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, aspek ini melampaui kategori tujuan pembelajaran yang sangat terukur, atau sekurang-kurangnya bersifat laten, yang orang menyebutnya sebagai kurikulum tersembunyi (hidden curriculum); bahkan, mendidik lebih daripada sekedar mengajar, lebih daripada sekedar pertemuan rutin di kelas.
Makalah ini akan mencoba memfokuskan pembahasan mengenai tazkiyah sebagai pendekatan dalam pendidikan Islam. Pembahasan akan mencakup pengertian, komponen tazkiyah, urgensi tazkiyah, serta tahapan/maqamat tazkiyah.

II. TAZKIYAH SEBAGAI PENDEKATAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Beberapa Pendekatan Pendidikan Islam
Untuk pendekatan pendidikan Islam, dapat berpijak pada firman Allah sebagai berikut:
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 151)
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Dari kedua firman Allah itu, Jalaluddin Rahmat dan Zainal Abdin Ahmad merumuskan pendekatan pendidikan Islam dalam enam kategori, yaitu:
1. Pendekatan Tilawah (pengajaran)
Pendekatan tilawah ini meliputi membacakan ayat-ayat Allah yang bertujuan memandang fenomena alam sebagai ayat-Nya; mempunyai keyakinan bahwa semua ciptaan Allah mempunyai keteraturan yang bersumber dari Rabb al-‘alamin; serta memandang bahwa segala yang ada tidak diciptakan-Nya secara sia-sia belaka. Bentuk tilawah mempunyai indikasi tafakkur (berpikir) dan tadzakur (berdzikir), sedangkan aplikasinya adalah pembentukan kelompok ilmiah, bimbingan ahli, kompetisi ilmiah dengan landasan akhlak Islam, dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya, misalnya penelitian, pengkajian, seminar dan sebagainya.
Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di, dalam Taisir al-Karimir Rahman I/173-174 mengatakan, “Maka Nabi r membacakan kepada mereka ayat-ayat yang menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan; pertama sekali menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan; pertama sekali menjelaskan kepada anda semua tentang tauhidullah dan kesempurnaannya. Kemudian tentang kebenaran Rasul-Nya, tentang wajibnya beriman kepada beliau, kemudian beriman kepada semua yang diberitakan oleh beliau berupa hari dibangkitkannya manusia kembali dan perkara-perkara ghaib lainnya. Sehingga anda memperoleh hidayah yang sempurna serta ilmu yang meyakinkan”.
2. Pendekatan Tazkiyah (penyucian)
Pendekatan ini meliputi menyucikan diri dengan upaya amar ma’ruf dan nahi mungkar (tindakan proaktif dan tindakan reaktif). Pendekatan ini bertujuan untuk memelihara kebersihan diri dari lingkungannya, memelihara dan mengembangkan akhlak yang baik, menolak dan menjauhi akhlak tercela, berperan serta dalam memelihara kesucian lingkungannya. Indikator pendekatan ini adalah fisik, psikis dan sosial. Aplikasi bentuk pendekatan ini adalah adanya gerakan kebersihan, kelompok-kelompok usrah, riyadhah keagamaan, ceramah, tabligh, pemeliharaan syiar Islam, kepemimpinan terbuka, teladan pendidikan serta pengembangan kontrol sosial (social control).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan, “wa yuzakkiihim, artinya mensucikan akhlak dan jiwa-jiwa mereka, dengan cara men-tarbiyahnya pada akhlak yang indah serta mensucikannya dari akhlak-akhlak yang rendah. Hak itu misalnya dengan membersihkan diri mereka dari syirik menjadi tauhid, dari riya’ menjadi ikhlas, dari dusta menjadi jujur, dari khianat menjadi amanah, dari sombong menjadi tawadhu’ (rendah hati), dari buruk akhlak menjadi baik akhlak, dari saling membenci, menyingkiri dan memutuskan hubungan menjadi saling menyintai, saling menyambung hubungan dan saling mengasihi, dan macam-macam pembersihan jiwa lainnya.”
3. Pendekatan Ta’lim al-Kitab
Mengajarkan al-Kitab (Al-Qur’an) dengan menjelaskan hukum halal dan haram. Pendekatan ini bertujuan untuk membaca, memahami dan merenungkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai keterangannya. Pendekatan ini bukan hanya memahami fakta, tetapi juga makna dibalik fakta, sehingga dapat menafsirkan informasi secara kreatif dan produktif. Indikatornya pembelajaran Al-Qur’an di bawah bimbingan para ahli, memonitoring pengkajian Islam, kelompok diskusi, kegiatan membaca literatur Islam dan lomba kreativitas Islami.
Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan, “wa yu’allimukumul kitaab maksudnya, mengajarkan Al-Qur’an kepada kalian baik lafal-lafalnya maupun makna-maknanya”.
4. Pendekatan Ta’lim Al-Hikmah
Pendektan ini hampir sama dengan pendekatan ta’lim al-Kitab, hanya saja bobot dan proporsi serta frekuensinya diperluas dan diperbesar. Indikator utama pendekatan ini adalah mengadakan perenungan (reflective thinking), reinovasi dan interpretasi terhadap pendekatan ta’lim al-Kitab. Aplikasi pendekatan ta’lim al-Hikmah ini dapat berupa studi banding antarlembaga pendidikan, antarlembaga pengkajian, antarlembaga penelitian, dan sebagainya, sehingga terbentuk suatu konsensus umum yang dapat dipedomani oleh masyarakat Islam secara universal dan sebagai pembenahan atas tidak relevannya pendekatan ta’lim al-Kitab.
Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan, “wal hikmah ada yang mengatakan: maksudnya adalah as-sunnah. Ada pula yang mengatakan: Hikmah ialah memahami rahasia-rahasia syariat dan mendalalmi pemahamannya, serta menempatkan segala urusan pada tempatnya.
Berdasarkan keterangan ini, maka mengajarkan Al-Qur’an, termasuk pula di dalamnya mengajarkan as-Sunnah, sebab as-Sunnah menjelaskan Al-Qur’an, menafsirkannya serta membahasakannya.
5. Yu’allimukum ma lam takunu ta’lamun
Suatu pendekatan yang mengajarkan suatu hal yang memang benar-benar asing dan belum diketahui, sehingga pendekatan ini membawa peserta didik pada suatu alam pemikiran yang benar-benar luar biasa. Pendekatan ini mungkin hanya dapat dinikmati oleh nabi dan rasul saja, seperti adanya mu’jizat, sedangkan manusia biasa hanya dapat menikmati sebagian kecil saja. Indikator pendekatan ini adalah penemuan teknologi canggih yang dapat membawa manusia pada penjelajahan ruang angkasa, sedangkan aplikasinya adalah mengembangkan produk teknologi yang dapat mempermudah dan membantu kehiduppan manusia sehari-hari.
Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan, “wa yu’allimukum ma lam takunu ta’lamun (dan mengajarkan kepada kalian apa yang tidak kalian ketahui). Sebab sebelum diutusnya Nabi r, mereka berada dalam kesesatan yang nyata; tidak berilmu dant dk pula beramal.”
6. Pendekatan Ishlah (perbaikan)
Pelepasan beban dan belenggu-belenggu yang bertujuan memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain, sanggup menganalisis kepincangan-kepincangan yang lemah, memiliki komitmen memihak bagi kaum yang tertindas dan berupaya menjembatani perbedaan paham. Di samping itu, pelepasan beban dan belenggu ini bertujuan memelihara ukhuwah Islamiyah dengan aplikasinya kunjungan ke kelompok dhu’afa, kampanye amal saleh, kebiasaan bersedekah, dan proyek-proyek sosial, serta mengembangkan badan amil zakat infak dan shodaqoh (BAZIS).

B. Pengertian Pendekatan Tazkiyah
Kata Tazkiyah (تزكية) berasal dari bahasa arab yaitu, “Azka Yuzki Tazkiyyatan” memiliki makna asal pruning the plant – to remove what is harmful for its growth (memangkas tanaman untuk membuang apa-apa yang membahayakan pertumbuhan tanaman tersebut). Ketika istilah ini diterapkan kepribadian manusia kata ini berarti to beautify it and to remove from it all evil traces and spiritual diseases that are obstacles in experiencing Allah. (memperindah kepribadian dan membuang bekas atau jejak setan dan penyakit-penyakit spiritual yang menghalangi pengalaman spiritual dengan Ilahi). Tazkiyah sering pula diartikan“Menyucikan atau Membersihkan (tathir)” dan pertumbuhan atau perbaikan (al-islah). Jadi Tazkiyyah secara etimologi berarti, menumbuhkan/mengembangkan atau membersihkan/mensucikan.
Secara terminologi tazkiah (تزكية) didefinisikan sebagai “an Arabic-Islamic term referring to the process of transforming the nafs (carnal self or desires) from its deplorable state of ego-centeredness through various psycho spiritual stages towards the level of purity and submission to the will of Allah”. Maksudnya “tazkiyah adalah istilah Islam yang merujuk kepada proses transformasi nafs (jasmaniyah atau hawa nafsu) dari pusat ego yang tercela menuju kehendak atau rida Allah swt”. Secara singkat istilah tazkiyatun nafs berarti mensucikan hati dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji.
Al-Ghazali mengistilahkan tazkiyat al nafs yang artinya identik dengan iman dan takwa. Ia mengartikan tazkiyat al nafs itu dengan ilmu penyakit jiwa dan sebab musababnya, serta ilmu tentang pembinaan dan pengembangan hidup kejiwaan manusia, suatu pengertian yang identik dengan kesehatan jiwa. Pengertian tersebut tidak terbatas pada konsepnya pada gangguan dan penyakit kejiwaan serta perawatan dan pengobatannya, tetapi juga meliputi pembinaan dan pengembangan jiwa manusia setinggi mungkin menuju kesehatan dan kesempurnaannya sesuai dengan arti kata tazkiyat itu sendiri dalam pendidikan al-Qur’an berikut:
Artinya: demi jiwa dan kesempurnaan (ciptaan)-Nya. Allah menghilangkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang melakukan proses tazkiyah (pembinaan takwa) dalam dirinya, sebaliknya merugilah orang-orang yang mengotori jiwa (mengikuti hawa nafsu dalam pembinaan jiwanya) atau tadsiyat al naf s. (Q.S. Asy Syamsu: 7-10)
Al Gazali merupakan pemikir besar abad ke 5 H. yang terkenal dengan julukan “hujjah al-Islâm”. Petualangan epistemologi al-Ghazâlî dilakukan dengan mempelajari aliran-aliran mutakallimin, bathiniyah, filosof, dan sufi. Ternyata semua ini membawa serangkaian keraguan, yang akhirnya ia baru menemukan ilmu yang diyakininya “benar” melalui paradigma tasawuf, karenanya pandangannya tentang tazkiyah al nafs dibingkai dalam kerangka pemikiran tasawuf.
Tasawuf berusaha membina dan membangun pribadi muslim melalui takhalliyah al nafs, tahalliyah al nafs dan tajalliyyah al nafs. Tazkiyah al nafs dikaitkan dengan penyucian jiwa serta penyelarasan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Tazkiyah al nafs merupakan suatu metode untuk bertaqarrub kepada Allah SWT melalui proses-proses dan latihan-latihan tertentu rohani tertentu.
Tazkiyah al nafs adalah proses beralihnya jiwa yang kotor, ternoda dan tercemar menjadi jiwa yang suci, peralihan dari keadaan yang tidak menurut syari'at kepada keadaan yang menepati syariat. Kebersihan jiwa akan membawa kepada kondisi batiniyah yang bebas dari nilai-nilai negatif yang tergambar dalam tingkah laku. Ajaran sufi mengandung proses, cara dan aplikasi nilai yang bertujuan untuk membersihkan diri baik zahir maupun batinnya. Untuk itu mereka harus menempuh apa yang disebut dengan maqamat dan ahwal.
Sementara itu dalam pandangan Ibnu Taimiyah tidak selamanya metode tasauf dapat mengantarkan pada kebenaran, bahkan mustahil manusia bisa mengetahui kebenaran sebagaimana yang dimaksudkan oleh Allah. Bahkan makrifah, sesuatu yang sering disebut-sebut sebagai tujuan
akhir kegiatan tasauf, juga tidak dapat mengantarkan pada kebenaran. Menurutnya, tujuan akhir kehiduan manusia adalah ibadah.
Baginya tasauf memang dapat mengantarkan seseorang pada pembersihan jiwa (tazkiyah), namun posisinya sama dengan prilaku moralitas pada umumnya, dimana seseorang yang memiliki akhlak yang tinggi akan membantu pembersihan jiwanya. Kasyf sebagai pengalaman religius semestinya dibawa pada tingkat intelektual yang dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun ia mengakui keabsahan metode eksperimental tasauf, tapi ia menyarankan agar Tasauf juga mempergunakan validitas eksternal untuk menguji kebenaran konsepnya. Satu hal yang menurutnya amat membahayakan adalah konsep Wahdah al-wujud, yang cenderung mengaburkan perbedaan antara khaliq dengan mahluk.Ekses dari konsep tersebut ternyata banyak disalahgunakan, misalnya, bila seseorang (Wali, Syaikh) telah mengganggap dirinya sampai pada tingkat ittihad, maka ia berada di luar batas-batas ketentuan Syariah. Terhadap ini, ia mengemukakan beberapa konsep kunci, antara lain tentang wali.
Bahwa pemikiran Ibnu Taimiyah pada dasarnya berusaha mengembalikan arus pemikiran Islam yang sudah terdiferensiasi ke dalam beberapa jalur yang saling bertolakbelakang, mulai dari pemikiran Kalam Mu'tazilah, Asy'ariyah, Falsafah, Fiqh maupun Sufisme. Momentum pemunculan pemikirannya itu memang bertepatan dengan fenomena sosial dan politik dunia Islam abad keempatbelas yang suram. Ibnu Taimiyah adalah seorang Neo-Sufisme, dengan cara mengembalikan Sufisme ke dalam pangkuan Tauhid, dengan konsep-konsep salaf seperti Ibadah, Iman, dan Akhlak.
Adapun menurut Ibnu Qayim al Jauziyah, salah seorang murid ibnu Taimiyah, pendidikan pada dasarnya memiliki beberapa sasaran antara lain tarbiyah imaniyah, tarbiyah ruhiyah, tarbiyah fikriyah, tarbiyah athifiyah(perasaan), tarbiyah khulukiyah, tarbiyah ijtimaiyah, tarbiyah iradiyah, tarbiyah badaniyah, tarbiyah riyadhah dan tarbiyah jinsiyyah. sasaran-sasaran ini menggambarkan secara nyata keluasan wawasannya sekaligus pandangannya mengenai tazkiyah sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan Islam.
Mengenai metode Ibnu Qayyim menggunakan metode takhliyah (menjauhi akhlak tercela), dan tahalliyah(menghiasi dengan akhlak mulia) dengan memberikan qudmah yang baik, perhatian yang kontinu dengan tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada peserta didik untuk berinteraksi dengan sesuatu yang membahayakan badan, fikiran dan akhlaknya serta membiasakan melakukan ibadah.
Pemikiran Ibnu Qayyim di atas menggambarkan bahwa tazkiyah menjadi proses yang mutlak harus dijalani untuk keberhasilan pendidikan.
Apabila dicermati, terdapat dua problem mendasar yang umumnya terdapat pada berbagai aktivitas Tazkiyah An-Nafs yang selama ini dilakukan. Pertama, terjadinya penyempitan pengertian Tazkiyah An-Nafs, yaitu hanya sebatas aktiviti individual-ritual. Akibatnya, penyucian atau pembersihan jiwa (diri) baru sekadar memotivasi individu untuk menjaga ibadah mahdhah (shalat, shaum, zakat, haji, dll), akhlak, berdoa, dan beristigfar, serta beberapa ibadah nafilah lainnya.
Kedua, Tazkiyah An-Nafs diindentikkan dengan proses menenangkan hati (kalbu) atau relaksasi. Bahkan alasan perbuatan tidak jarang menjadi alasan mengapa seseorang melakukan Tazkiyah An-Nafs seperti ini. Persoalannya adalah apakah Tazkiyah An-Nafs dalam Islam hanya sebatas hal yang demikian? Lalu dimana letak Islam sebagai penyelesaian atas persoalan hidup manusia, seperti masalah sosial, budaya, ekonomi, hukum, dan politik?
Al-Qur'an dan Hadits adalah dua pusaka Rasulullah SAW. yang harus selalu dirujuk setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang sangat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim.
Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur'an dan Sunnah adalah pribadi yang shaleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.
Persepsi atau gambaran masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyahnya saja.
Padahal, itu hanyalah salah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Bila disederhanakan, setidaknya ada tiga karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih).
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya.
Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah. "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam" (QS. 6:162). Karena aqidah yang bersih merupakan sesuatu yang amat penting, maka pada masa awal da'wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.
2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar).
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: "Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat". Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh).
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur'an. Allah berfirman yang artinya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung" (QS. 68:4).
Maka untuk tujuan itulah, mengapa kiranya pemberdayaan pembudayaan pribadi muslim menjadi tolak ukur dalam Tazkiyah An-Nafs

C. Komponen-komponen Tazkiyah
1. Tazkiyah al-nafs (Penjernihan Jiwa) inilah yang paling relevan dengan apa yang disebut konseling dewasa ini.
2. Tazkiyah al-aql (penjernihan akal), komponen ini mengandung dua hal:
a. Tazkiyah al-aqaid (menjernihkan akidah)
b. Tazkiyah Asalib al-Tafkir (penjernihan cara-cara pemikiran) dalam peserta didik dilatih untuk: (1) mengkritik diri sendiri (self critism); (2) mengadakan pembaharuan bukan taqlid (innovation); (3) berfikir secara saintifik dan (5) berfikir secara kolektif.
3. Tazkiyah al-Jism (penbersihan Tubuh/Badan)
a. Penyusunan kebutuhan tubuh yang bertujuan untuk peetumbuhan dan kesehatan jasmani.
b. Berhemat dengan tujuan agar tenaga dan potensi manusia jangan terbuang .
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa periode tazkiyah bertujuan membentuk tingkah laku baru yang dapat menyeimbangkan roh, akal dan badan seseorang sekaligus.
Untuk mencapai tujuan ini, ditempuhlah beberapa metode tazkiyah antara lain: salat, puasa, zakat, haji, membaca al-Qur’an, zikir, bertafakur pada makhluk Allah, mengingat kematian (zikrul maut), muraqabah, muhasabah, mujahadah, dan muatabah, jihad amar ma’ruf dan nahi munkar, khidmah dan tawadu’, mengetahui jalan masuk setan ke dalam jiwa dan menghalanginya, mengetahui penyakit hati dan menghindarinya.

D. Urgensi Tazkiyah
Salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam adalah untuk membimbing umat manusia dalam rangka membentuk jiwa yang suci. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata". (Al-Jumu'ah: 2).
Dengan demikian, seseorang yang mengharapkan keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi di hari akhir hendaknya benar-benar memberi perhatian khusus pada tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ia harus berupaya agar jiwanya senantiasa berada dalam kondisi suci. Kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ke dunia ini tak lain adalah untuk menyucikan jiwa manusia. Ini sangat terlihat jelas pada jiwa para sahabat antara sebelum memeluk Islam dan sesudahnya. Sebelum mengenal Al-Islam jiwa mereka dalam keadaan kotor oleh debu-debu syirik, ashabiyah (fanatisme suku), dendam, iri, dengki dan sebagainya. Namun begitu telah disibghah (diwarnai) oleh syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW, mereka menjadi bersih, bertauhid, ikhlas, sabar, ridha, zuhud dan sebagainya.
Keberuntungan dan kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia men-tazkiyah dirinya. Barangsiapa tekun membersihkan jiwanya maka sukseslah hidupnya. Sebaliknya yang mengotori jiwanya akan senantiasa merugi, gagal dalam hidup. Hal itu diperkuat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sumpahNya sebanyak sebelas kali berturut-turut, padahal dalam Al-Qur'an tidak dijumpai keterangan yang memuat sumpah Allah sebanyak itu secara berurutan. Marilah kita perhatikan firman Allah sebagai berikut:
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan malam bila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penciptaannya (yang sempurna), maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya".(Asy-Syams: 1-10).
Dalam ayat yang lain juga disebutkan bahwa nantinya harta dan anak-anak tidak bermanfaat di akhirat. Tetapi yang bisa memberi manfaat adalah orang yang menghadap Allah dengan Qalbun Salim , yaitu hati yang bersih dan suci.
Firman Allah:
"yaitu di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih". (Asy-Syu'araa':88-89).
1. Tazkiyyatun Nafsi termasuk hal terpenting yang dibawa oleh para Rasul as.
Hal ini sebagaimana yang ALLAH ingatkan dalam firman-Nya berikut ini: Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2] : 129).
Di dalam beberapa ayat juga dijelaskan, antara lain pada surat Al-Baqarah [2] ayat 151, surat Ali Imran [3] ayat 164, surat Al-Jumu’a [62] ayat 2, dan surat An-Nazi’at [79] ayat 17 hingga 19.
Tazkiyyatun Nafsi yang dibawa oleh para Rasul ini adalah melalui: Tadzkiir : Terhadap ayat-ayat ALLAH di setiap ufuk dan dalam diri manusia, terhadap perbuatan ALLAH atas ciptaan-NYA dan terhadap hukuman dan siksaan-NYA.Ta’liim : Mempelajari Kitab dan Sunnah. Tazkiyyah : Membersihkan hati dan memperbaiki tingkah-laku.
2. Tazkiyyatun Nafsi merupakan tujuan orang beriman.
Allah SWT berfirman:
“… di dalamnya ada orang-orang yang cinta untuk senantiasa membersihkan dirinya …” (QS. At-Taubah [9]: 108). Di ayat lain Allah SWT juga berfirman: “… dan sungguh akan kami selamatkan orang yang paling bertaqwa dari neraka, yaitu orang yang memberikan hartanya karena ingin mensucikan dirinya.” (QS. Al-Lail [92]: 17-18).
3. Tazkiyyatun Nafsi merupakan parameter kebahagiaan atau kebinasaan.
Allah SWT berfirman:“…sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syam [91]: 9-10).
4. Tazkiyyatun Nafsi untuk mengenal penyakit zaman dan cara mengobatinya.
Salah satu penyakit zaman saat ini adalah hilangnya khusyu’, cinta dunia dan takut mati (wahn). Solusinya adalah melalui tarbiyyah Islamiyyah. Dimana dalam tarbiyah tersebut diberikan tadzkiir, ta’liim dan tazkiyyah.

E. Tahapan Tazkiyah An-Nafs
Bagaimana cara membersihkan jiwa? Pertama, kita harus mengenal diri kita. Kedua, mengisi diri kita melewati pembersihan (tazkiyah) dengan tiga tahapan: (1) pembersihan akidah, (2) pembersihan dengan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya, (3) menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah saw.
Tiga Tahapan Pembersihan Jiwa. Adapun tiga tahapan yang harus dilalui oleh seorang Muslim yang ingin mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman hidupnya adalah sebagai berikut.


1. Tahap Pertama: Tazkiyah Melalui Pembersihan Akidah.
Seluruh isi Al-Qur'an mengadung ajaran akidah yang lengkap, terdiri dari empat bagian. Pemberitahuan tentang Allah, nama dan sifatnya disebut tauhid ilmiyah teoritis. Ajakan agar penghambaan (baca: ibadah) hanya kepada Allah semata disebut dengan tauhid amaliyah praktis. Penjelasan tentang perintah dan larangan yang harus ditaati sebagai konsekuensi logis penerimaan tauhid disebut dengan hak-hak tauhid. Keterangan positif tentang hasil yang akan diperoleh pelaku tauhid di dunia maupun di akhirat dan akibat buruk bagi yang menolak atau ragu-ragu terhadap tauhid di dunia sebagai kesengsaraan dan di akhirat ke dalam api neraka.
Begitu bersih jiwa orang yang berakidah Islam yang benar sehingga dapat membuahkan kebahagiaan setiap saat. Digambarkan oleh Allah indah sekali berikut ini. "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Nahl: 97).
Berbeda dengan orang yang rusak akidahnya seperti umumnya musyrikin, maka Allah menyebut mereka jiwanya kotor. "Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, ...." (At-Taubah: 28). Hal itu terjadi karena mereka banyak menzalimi dirinya karena tidak mengindahkan ajakan Sang Pencipta dirinya. "Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (Luqman: 13). Akibatnya, mereka berjalan di atas kesesatan. "Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (An-Nisaa': 116).
Di sini rahasia Rasulullah saw. mencurahkan perhatian selama tiga belas tahun saat berada di Mekah. Rasulullah saw. menggembleng para sahabat agar akidahnya murni dari intrik-intrik syirik apa pun bentuknya.
Ibnul Qayyim menggambarkan indah sekali keimanan mereka yang bersih itu. Ringkasnya, mereka adalah manusia yang hatinya diliputi dengan pengertian terhadap Allah sampai meluap rasa cintanya, rasa takut (baca: khasyah), pengagungan, dan selalu merasa dikontrol oleh Allah SWT (baca: muraqabah). Rasa cintanya telah merasuki seluruh bagian tubuhnya sampai tulang sumsumnya sampai pada tingkat melalaikan cinta selain dari pada-Nya. Tandanya, ia banyak ingat dan menyebut Allah. Seluruh harap dan cemasnya ditujukan kepada-Nya serta selalu bertawakal dan mengembalikan segala urusannya kepada Allah setelah melalui berbagai upaya dan sebab yang dibenarkan. Tak jarang ia bertaubat dan tunduk patuh keharibaannya.
Apabila dia meletakkan punggungnya di pembaringannya, jiwanya melayang ke hadirat Ilahi sambil menyebut-nyebut nama dan sifat-sifat-Nya. Dia menyaksikan asma dan sifat-Nya yang telah memerangi cahaya hatinya. Badannya di atas tempat tidur, sementara jiwanya berdarmawisata dan sujud di keharibaan Rabb yang dia cintai, penuh khusu', dan rendah hati. Hanya Allah jualah yang memenuhi seluruh kebutuhan manusia dan seluruh makhluk. Allahlah yang mengampuni dosa hambanya, menyelesaikan segala persoalannya, membahagiakan orang sedih, menolong yang lemah, memberi kekayaan dan mencukupkan orang miskin. Dialah yang mematikan dan menghidupkan, membahagiakan dan mencelakakan, menyesatkan dan memberi petunjuk, memberi kekayaan kepada segolongan manusia dan menjadikan miskin pada segolongan yang lain, mengangkat derajat suatu kaum dan menghinakan kaum yang lain, dan sebagainya.
Begitu pentingnya akidah ini sehingga harus kita pelajari secara global kemudian terinci dari sumber yang terpercaya. Ini masalah agama (baca: din) tidak boleh kita ambil dari sembarang orang, tapi harus dari yang terpercaya ilmu dan amalnya. Seperti sinyalemen Imam Malik dan Ibnu Sirin, "Ilmu ini, ilmu agama, hendaknya kamu ambil ilmu agamamu dari orang yang benar-benar kamu percayai."
Tentunya, dalam kesempatan yang terbatas ini, kami tidak mengungkapkan poin-poin dalam akidah, tetapi sebatas pembuka dan perangsang belaka agar diketahui pentingnya hal tersebut.
2. Tahap Kedua: Tazkiyah dengan Menjalankan Perintah dan MeninggalkanLarangan.
Sebelum seseorang melakukan atau meninggalkan sesuatu, hendaknya dia tahu betul bahwa hal tersebut memang diperintah sehingga harus dikerjakan atau dilarang sehingga harus ditinggalkan. Sementara, yang sering terjadi ada orang yang menjalankan kewajiban tapi pada saat yang lain dia melakukan pelanggaran. Contohnya, berapa banyak orang yang menjalankan shalat di masjid, tapi kalau pergi ke kantor dia melakukan korupsi. Kita harus konsekuen kalau mau selamat. Kita harus melaksanakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Dalam hadis qudsi, Allah SWT pernah menyatakan, Allah Taala berfirman, "Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku proklamirkan perang kepadanya. Tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih baik bagi-Ku daripada yang Kuwajibkan kepadanya. Senantiasa hamba-Ku mendekat kepadaku dengan mengerjakan yang sunnah-sunnah sampai Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya untuk mendengarkan, matanya untuk melihat, tangannya untuk berkreasi, dan kakinya untuk berjalan. Apabila dia meminta kepada-Ku, pasti Kuberikan. Apabila berlindung kepada-Ku, pasti Kulindungi dia. Tidaklah aku rela mengerjakan sesuatu seperti ragunya aku mengambil nyawa orang mukmin karena mati, sementara Aku tak suka menyakitinya." (HR Bukhari dan yang lainnya).
Kewajiban mengerjakan perintah Allah tidak bisa ditawar-tawar, apalagi ada anggapan pengecualian bagi orang-orang tertentu. Demikian kesalahan besar bagi orang yang mengerjakan sunnah yang banyak, tapi pada saat yang sama dia meninggalkan kewajiban. Seperti orang yang mengeluarkan sedekah tapi tidak bayar zakat. Dalam menjalankan kewajiban ini, umat Islam terbagi menjadi tiga bagian seperti disinggung Al-Qur'an.
"Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." (Faathir: 32).
Menurut Ibnu Taimiyah, seperti halnya shalat, dhaalimun linafsihi adalah orang yang suka mengundurkan waktu salatnya. Muqtasid adalah orang yang mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sementara saabiqun bil khairat adalah orang yang mengerjakan shalat tepat waktu, berjamaah dan mengerjakan sunnah rawatib.
Umar bin Khattab r.a. berpendapat, sebaik-baik perbuatan adalah mengerjakan yang diwajibkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang Allah serta berbaik niat terhadap Allah.
Ada pula orang yang mempunyai kewajiban menafkahi anak dan istri sehingga untuk itu dia matia-matian mencari rizki. Anehnya sering ia meninggalkan kewajiban lainnya seperti shalat dan yang lainnya. Tak jarang pula dia mencarinya dengan jalan tidak benar seperti riba, korupsi, dll.
Orang yang menjalankan kewajiban dengan benar, menjalankan shalat, berpuasa pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat jika mampu, menunaikan haji jika berkecukupan, dan menjalankan tanggung jawab sesama manusia, berarti orang itu telah berjalan setengah langkah menuju keselamatan, sementara setengah berikutnya menghindari hal-hal yang dilarang.
Yang perlu diingat selalu bahwa Allah SWT sayang kepada hambanya. Maka, segala sesuatu yang membahayakan atau merugikan mereka pasti dilarang, sedangkan yang baik dibolehkan. Meskipun sebagian orang tidak tahu apa hikmah pelarangan dan kebolehan sesuatu itu. Untuk hak menghalalkan dan mengharamkan hanya milik Allah SWT.
Rasulullah saw. sudah menjalankan batasan-batasan larangan Allah dalam sabda-sabdanya. Di antaranya, Dari Nu’man bin Basyir r.a. berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya ada yang samar-samar (syubhat), banyak manusia tidak mengetahuinya. Maka barang siapa menjaga dirinya dari hal yang syubhat itu berarti telah bersih agama dan kehormatannya. Sementara, orang yang terlihat dengan syubhat terjatuh ke dalam yang haram tak ubahnya seperti penggembala yang menggembalakan kambingnya di sekitar kebun orang. Lambat laun ia akan memasukinya. Ketauhilah, setiap raja meletakkan batasan larangan. Ingatlah bahwa larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkannya. Sungguh dalam tubuh manusia ada segumpal darah, kalau baik, seluruh badan baik; tapi kalau rusak, seluruh badan rusak. Itulah hati." (HR Bukhari dan Muslim).
Di antara larangan yang disebut-sebut Rasulullah saw. adalah larangan menyekutukan Allah, melawan orang tua, berdukun, menyihir, menipu, berbohong, bersaksi palsu, menyembah kuburan, sombong, dengki, bersumpah selain Allah, riya, tidak khusu' dalam shalat, mendahului imam saat shalat berjamaah, berzina, minum khamar, makan binatang buas, berjudi, menyetubuhi istri saat sedang menstruasi, makan riba, mencuri, menyuap, menyerobot tanah orang, bersumpah palsu, mengumpat, mendengarkan musik-musik, mengagungkan gambar yang bernyawa, menggunakan emas dan sutra bagi pria, menyerupai wanita, sedang wanita menyerupai pria, mengadu domba, meratapi orang mati, menato badan, dll. Semua larangan itu harus kita tinggalkan agar kita mendapat manisnya iman. Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah menggantinya.


2. Tahap Ketiga: Tazkiyah dengan Menjalankan Sunnah Rasulullah
Istilah yang dimaksud seperti sunnah ahli fiqih, yaitu amalan taat selain yang wajib, apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak terkena sangsi apa-apa.
Mengamalkan yang sunnah-sunnah setelah yang wajib itu diharapkan agar kita sampai pada derajat waliyullah, yang mendapat perlindungan dari Allah, seperti tertera dalam hadis qudsi di atas. Allah mencintai hamba yang senantiasa menjalankan sunnah Rasulullah saw.

Dalam perspektif tasawuf tahapan-tahapan tersebut diistilahkan dengan maqamat. Maqamat adalah jamak dari maqam, secara harfiyah maqamat berasal dari bahasa arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Juga bisa berarti tempat atau kedudukan (stations). Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Dalam Sufi Terminology: The Mystical Language of Islam, maqam diterjemahkan sebagai kedudukan spiritual. Karena sebuah maqam diperoleh melalui daya upaya (mujahadah) dan ketulusan dalam menempuh perjalanan spiritual. Namun sesungguhnya perolehan tersebut tidak lepas dari karunia yang diberikan oleh Allah.
Mengenai struktur dan berapa jumlah maqamat yang harus ditempuh para sufi, di kalangan mereka tidak sama pendapatnya. Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya al-Ta’aruf li Mazhab ahl al-Tasawwuf, sebagaimana dikutip Harun Nasution misalnya mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya ada sepuluh, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-shabr, al-faqr, al-tawadlu’, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah dan al-ma’rifah.
Sementara itu Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi dalam kitab al-Luma’ menyebutkan jumlah maqamat hanya tujuh, yaitu al-taubah, al-wara’, al-zuhud, al-faqr, al-tawakkal, dan al-ridla.
Dalam pada itu Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Din mengatakan bahwa maqamat itu ada delapan, yaitu al-taubah, al-shabr, al-faqr, al-zuhud, al-tawakkal, al-mahabbah, al-ma’rifah dan al-ridla.
Kutipan tersebut memperlihatkan keadaan variasi penyebutan maqamat yang berbeda-beda, namun ada maqamat yang oleh mereka disepakati, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-wara’, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal, dan al-ridla. Sedangkan al-tawaddlu, al-mahabbah, dan al-ma’rifah oleh mereka tidak disepakati sebagai maqamat. Terhadap tiga istilah yang disebut terakhir itu terkadang para ahli tasawwuf menyebutnya sebagai maqamat dan terkadang menyebutnya sebagai hal.
III. PENUTUP
A. Simpulan
1. Tazkiyah adalah istilah Islam yang merujuk kepada proses transformasi nafs (jasmaniyah atau hawa nafsu) dari pusat ego yang tercela menuju kehendak atau rida Allah swt atau mensucikan hati dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji.
2. Komponen tazkiyah meliputi tazkiyah al-nafs, tazkiyah al-aql dan tazkiyah al-jism.
3. Urgensi tazkiyah terletak pada tazkiyah sebagai hal terpenting yang dibawa rasul, tujuan orang beriman, parameter kebahagiaan dan kebinasaan serta untuk mengenal penyakit zaman dan cara mengobatinya.
4. Tahapan tazkiyah; pembersihan akidah, menjalankan perintah dan meninggalkan larangan serta menjalankan sunnah Rasulullah saw. Sementara itu dalam perspektif tasawuf dikenal maqamat antara lain; al-taubah, al-zuhud, al-wara’, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal, dan al-ridla.
B. Penutup
Demikianlah makalah ini kami susun dengan segala keterbatasan yang ada, baik dari segi penulisan maupun subtansi isinya. Untuk itu kami sangat mengharapkan saran, masukan, serta kritik yang membangun demi memperbaiki makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA


Al-Atsari, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halaby. Tashfiyah dan Tarbiyah. Terjemahan oleh Muslim al-Atsari dan Ahmas Faiz. (Solo: Pustaka Imam Bukhari, 2002).
Al-Ghazali, , Ihya’ Ulum al-Din, (Tk: Dar al-Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, tt), Juz IV.
Al-Hijazy, Hasan bin Ali, Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim, Cet I, Jakarta: Pustaka Al Kausar, 2001.
Ansari, Maulana Fazlur Rahman, Knowledge and the Self. Dalam http://wikipedia/tazkiah.
Armstrong, Amatullah, Khasanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, Terj. MS. Nasrullah & Ahmad Baiquni, (Bandung: Mizan, 1996).
http://ikasmiati-pai2.blogspot.com/2009/06/hakekat-alat-dan-metode-pendidikan.html
Langgulung, Hasan, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial, (Jakarta: Gaya Media Pratama, tt).
Mifzawal, Tazkiyah yang benar dan Penyimpangannya. Dalam http://mifzawal.blogspot.com/2009/01/tazkiyah-yang-benar-dan-penyimpangannya.html
Mujib, Abdul, &Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam: Telaah Atas Komponen Dasar Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana, 2006)
Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), cet.III.
Rahardjo, Mudjia, Membangun Dunia Baru Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan Berbasis Akhlak Mulia, Makalah seminar dalam rangkaian kegiatan Silaknas ICMI Pusat, tgl. 12-14 Desember 2008, di Palembang. dalam http://mudjiarahardjo.com/
UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Tazkiah: Purification of the Soul. Dalam http://wikipedia/tazkiah.
Yunus, Mahmud, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar