Jumat, 01 Januari 2010

Pendidikan Islam dan Kehidupan Dunia Modern

PENDAHULUAN

Perkembangan masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya sudah memasuki masyarakat informasi yang merupakan kelanjutan dari masyarakat modern dengan ciri-cirinya yang bersifat rasional, berorientasi ke masa depan, terbuka, menghargai waktu, kreatif, mandiri dan inovatif. Sedangkan masyarakat informasi ditinjau oleh penguasaan terhadap teknologi informasi, mampu bersaing, serba ingin tahu, imajinatif, mampu mengubah tantangan menjadi peluang dan menguasai berbagai metode dalam memecahkan masalah.
Kehidupan modern selain berdimensi positif juga berdemensi negatif. Dimensi positif di antaranya semakin berkembangnya teknologi dalam berbagai bidang, komunikasi, perhubungan, antariksa, kedokteran dan sebagainya.
Sebaliknya dimensi negatifnya juga berkembang pesat. Merosotnya nilai-nilai humanisme, semakin longgarnya nilai-nilai moral, kehidupan masyarakat yang semakin “individualistis”, mengejar kehidupan dan kemewahan duniawi dengan segala cara dan sebagainya.
Dampak negatif kehidupan modern, berpengaruh sangat besar dalam kehidupan keluarga. Karena longgarnya nilai-nilai moral, akhlak dan agama di lingkungan keluarga, maka orang tua sebagai figur panutan anak-anaknya hilang kredibilitasnya, sehingga dalam keluarga tidak ada lagi yang patut menjadi figur panutan.
Pada masyarakat informasi peranan media elektronika sangat memegang peranan penting dan bahkan menentukan corak kehidupan. Pengguna teknologi seperti komputer, faximile, internet dan lain-lain telah mengubah lingkungan informasi dari lingkungan yang bercorak lokal dan nasional kepada lingkungan yang bersifat internasional, mendunia dan global. Pada era informasi, lewat komunikasi satelit dan komputer, orang tidak hanya memasuki lingkungan informasi dunia, tetapi juga sanggup mengolahnya dan mengemukakannya secara lisan, tulisan, bahkan secara visual.
Peranan media elektronika yang demikian besar akan menggeser agen-agen sosialisasi manusia yang berlangsung secara tradisional seperti yang dilakukan oleh orangtua, guru, pemerintah dan sebagainya. Komputer dapat menjadi teman bermain, orangtua yang akrab, guru yang memberi nasehat, juga sewaktu-waktu dapat memberikan jawaban segera mungkin terhadap pertanyaan-pertanyaan eksistensial dan mendasar.
Kemajuan dalam bidang informasi tersebut pada akhirnya akan berpengaruh pada kejiwaan dan kepribadian masyarakat. Pada era informasi yang sanggup bertahan hanyalah mereka yang berorientasi ke depan, yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan dan mereka yang memiliki ciri-ciri sebagaimana yang dimiliki masyarakat modern tersebut di atas. Dari keadaan ini, keberadaan masyarakat satu bangsa dengan bangsa lain menjadi satu, baik dalam bidang sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya.
Itulah gambaran masa depan yang akan terjadi, dan umat manusia mau tidak mau harus menghadapinya. Masa depan yang demikian itu selanjutnya akan mempengaruhi dunia pendidikan baik dari segi kelembagaan, materi pendidikan, guru, metode, sarana prasarana dan lain sebagainya. Hal ini pada gilirannya menjadi tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan, termasuk di dalamnya dunia pendidikan Islam.
Makalah ini akan mencoba mendeskripsikan kondisi dan situasi pendidikan Islam ketika berhadapan dengan realitas kehidupan dunia modern serta bagaimana seharusnya pendidikan Islam menjawab tantangan tersebut.


PENDIDIKAN ISLAM, TANTANGAN DAN PROBLEMATIKANYA
Pengertian Pendidikan dan Pendidikan Islam
Menurut Herman H. Horne sebagaimana dikutip pendapatnya oleh Muzayyin Arifin mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses penyesuaian diri manusia secara timbal balik dengan alam sekitarnya, dengan manusia dan dengan tabiat tertinggi dari kosmos.
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual) dan tubuh anak.
Sedangkan pendidikan Islam lebih diarahkan kepada keseimbangan dan keserasian hidup manusia. Sebagaimana pendapat al-Syaibany yang menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadi atau kehidupan masyarakat dan kehidupan alam sekitar melalui proses pendidikan. Perubahan tersebut dilandasi oleh nilai-nilai Islam.
Seminar Pendidikan Islam se-dunia pada tahun 1980 di Islamabad menghasilkan rumusan sebagai berikut:
“Education aims at the balanced growth of total personality of man through the training of man’s spirit, intellect, the rational self, feeling and bodily sense. Education should therefore, cater for the growth of man in all its aspects, spiritual, intellectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and collectively and motivate all these aspects toward goodness and attainment of perfection. The ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual the community and humanity at large”.

Rumusan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam mempunyai cakupan yang sama luasnya dengan pendidikan umum, bahkan melebihinya, oleh karena pendidikan Islam juga membina dan mengembangkan pendidikan agama di mana titik beratnya terletak pada internalisasi nilai iman, islam dan ihsan dalam pribadi manusia muslim yang berilmu pengetahuan luas.
Secara konseptual rumusan pengertian dan tujuan pendidikan di atas begitu ideal, dalam tataran praktis dan realitas pendidikan Islam masih banyak dihadapkan pada problematika serius yang memerlukan pemecahan untuk dapat merealisasikan tujuan tersebut.

Tantangan dan Problematika Pendidikan Islam
Sistem Pendekatan dan Orientasi
Di tengah gelombang krisis nilai-nilai kultural berkat pengaruh ilmu dan teknologi yang berdampak pada perubahan sosial, pendekatan pendidikan Islam yang memandang bahwa kebenaran Islam yang mutlak pasti mampu mengalahkan kebatilan yang merajalela di luar kehidupan Islam dengan dasar dalil: (jika telah datang perkara yang hak, maka hancurlah perkara yang batil) perlu dilakukan modifikasi/perubahan menjadi pendekatan yang berdasarkan atas pandangan yang realistis bahwa Islam sebagai suatu kebenaran baru mampu berkembang dengan sepenuhnya dalam masyarakat bila para pendukungnya berusaha keras dan tepat sasaran melalui sistem dan metode yang efektif dan efisien.
Pendidikan Islam masa kini dihadapkan kepada tantangan yang semakin berat. Tantangan tersebut berupa timbulnya aspirasi dan idealitas umat manusia yang serba multi-interest yang berdimensi nilai ganda dengan tuntutan hidup yang multi kompleks pula. Jadi tugas pendidikan Islam dalam proses pencapaian tujuannya tidak lagi menghadapi problema yang simplisistis, melainkan amat kompleks akibat rising demand manusia semakin kompleks pula. Semakin kompleks rising demand, semakin kompleks pula hidup kejiwaannya, maka semakin tidak mudah jiwa manusia itu diberi nafas agama. Secara riil pendidikan Islam masih menemukan kesulitan memenuhi tuntutan seperti itu. Orientasi pendidikan Islam seringkali masih kepada kehidupan ukhrawi an sich. Ini mestinya dirubah menjadi duniawi-ukhrawi secara bersamaan. Orientasi ini menghendaki suatu rumusan tujuan pendidikan yang jelas karena itu program pembelajarannya harus diproyeksikan ke masa depan dari pada masa kini atau masa lampau. Meskipun masa lampau dan kini tetap dijadikan khasanah kekayaan empiris yang amat berharga bagi batu loncatan ke masa depan, sehingga nostalgia ke masa keemasan dunia Islam masa lampau (abad 7 s.d 14) tidak perlu lagi mengobsesi pemikiran kita.
Lebih-lebih dalam menghadapi pergeseran nilai-nilai kultural yang transisional dari dunia kehidupan yang belum menemukan pemukiman yang mapan, maka pendidikan Islam dituntut untuk menerapkan pendekatan dan orientasi baru yang relevan dengan tuntutan zaman.
Pelembagaan proses kependidikan Islam.
Pendidikan Islam yang berlangsung melalui proses operasional menuju tujuannya memerlukan model dan sistem yang konsisten yang dapat mendukung nilai-nilai moral-spiritual yang melandasinya.
Nilai-nilai tersebut diaktualisasikan berdasarkan orientasi kebutuhan perkembangan fitrah murid (learner’s potential orientation) yang dipadu dengan pengaruh lingkungan kultural yang ada. Oleh karena itu, manajemen kelembagaan pendidikan Islam memandang bahwa seluruh proses kependidikan Islam dalam institusi adalah sebagai suatu sistem yang berorientasi kepada perbuatan yang nyata (action-oriented system) berdasarkan atas pendekatan sistemik.
Kelembagaan pendidikan Islam merupakan subsistem dari sistem masyarakat atau bangsa. Dalam operasionalisasinya selalu mengacu dan tanggap kepada kebutuhan perkembangan masyarakat tanpa bersikap demikian, lembaga pendidikan Islam dapat menimbulkan kesenjangan sosial dan kultural. Kesenjangan inilah yang menjadi salah satu sumber konflik antara pendidikan dan masyarakat. Dari sanalah timbul krisis pendidikan yang intensitasnya berbeda-beda menurut tingkat atau taraf rising demand masyarakat.
Untuk mengetahui adanya kesenjangan antara lembaga pendidikan dan masyarakat yang berkenaan dengan kebutuhan yang meningkat ialah dengan melakukan assesment.
Sebegitu jauh peranan pendidikan didesak untuk melakukan inovasi, terutama perubahan kurikulum dan perangkat manajemen. Atas dasar alasan-alasan tertentu para kritikus yang pakar, melontarkan berbagai pandangan kritis, bahkan sinis terhadap posisi lembaga pendidikan Islam. Dari pandangan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu ada yang menganggap bahwa lembaga pendidikan Islam terlalu monopolis-elitis, tidak lagi humane atau populis, sistemnya sudah usang, lapuk dan rapuh, tak berdaya dalam memacu modernisasi masyarakat, bahkan ada yang menganggap bahwa lembaga pendidikan kita tidak lain dipersamakan dengan mental blenders, yang membingungkan masyarakat, dan sebagainya.
Alvin Toffler, dengan kaca mata sain teknologis menggambarkan “our school face backward toward a dying system rather than forward to the emerging new society. Their vast energies are applied to cracking out industrial men; people tooled for survival in a system that will be dead before they are”.
Bilamana Toffler benar-benar menyadari bahwa kelemahan fungsi lembaga pendidikan sebagai subsistem masyarakat, pada hakikatnya tidak terlepas dari mekanisme sistem sosio-kultural yang saat ini sedang diserbu oleh membanjirnya pengaruh sain dan teknologi itu sendiri; maka faktor interaksional dalam pertumbuhan sekolah dan masyarakat adalah satu-satunya yang bertanggung jawab terhadap timbulnya kelemahan fungsional sistem lembaga kependidikan Islam.
Di samping itu pergeseran idealitas masyarakat yang menuju ke arah pola pikir rasional-teknologis yang cenderung melepaskan diri dari tradisionalisme kultural-edukatif makin membengkak. Fungsi lembaga kependidikan mau atau tidak mau harus bersifat laten terhadap kecenderungan sosial tersebut. Akibatnya lembaga ini terlalu dibebani over-demanded, karena dianggap sekedar sebagai public and social servant yang harus tunduk kepada keragaman kepentingan yang berubah-ubah.
Inilah sebagai pencerminan kemelut yang terjadi di dalam masyarakat yang purna-industrial (post industrial society), terutama di Barat. Namun demikian permasalahannya lembaga pendidikan Islam pada khususnya harus bangkit kesadarannya bahwa lembaga pendidikan Islam kita yang masih bersikap konservatif dan statis dalam menyerap tendensi dan aspirasi masyarakat transisional seperti masa kini, perlu memacu diri untuk melakukan inovasi dalam wawasan, strategi dan program-programnya sedemikian rupa sehingga mampu menjawab secara aktual dan fungsional terhadap tantangan baru. Apalagi bila diingat bahwa misi pendidikan Islam lebih berorientasi kepada nilai-nilai luhur dari Tuhan yang harus diinternalisasikan ke dalam lubuk hati tiap pribadi manusia melalui bidang-bidang kehidupan manusia, maka pendekatan sistemik yang bersifat missionair di mana faktor humanisasi menjadi sentral strategi, perlu lebih diprioritaskan dalam perencanaan.
Pengaruh sains dan teknologi canggih
Sebagaimana telah kita sadari bersama bahwa dampak positif dari kemajuan teknologi sampai kini, adalah bersifat fasilitatif (memudahkan) kehidupan manusia yang hidup sehari-hari sibuk dengan berbagai problema yang semakin mengemelut. Teknologi menawarkan berbagai macam kesantaian dan kesenangan yang semakin beragam, memasuki ruang-ruang dan celah-celah kehidupan kita sampai yang remang-remang dan bahkan yang gelap pun dapat dipenetrasi.
Dampak-dampak negatif dari teknologi modern telah mulai menampakkan diri di depan mata kita, yang pada prinsipnya berkekuatan melemahkan daya mental-spiritual atau jiwa yang sedang tumbuh berkembang dalam berbagai bentuk penampilan dan gaya-gayanya. Tidak hanya nafsu mutmainnah yang dapat diperlemah oleh rangsangan negatif dari teknologi elektronis dan informatika melainkan juga fungsi-fungsi kejiwaan lainnya seperti kecerdasan fikiran, ingatan, kemauan dan perasaan (emosi) diperlemah kemampuan aktualnya dengan alat-alat teknologis-elektronis dan informatika seperti komputer, fotokopi jarak jauh (faximile), video cassett recorder (VCR) dan komoditi celluloid (film, video, disc), dan sebagainya. Dalam waktu dekat, anak didik kita tidak perlu lagi belajar bahasa asing atau ketrampilan tangan dan berfikir ilmiah taraf tinggi karena alat-alat teknologis telah mampu menggantikannya dengan komputer penerjemah semua bahasa asing, robot-robot telah siap mengerjakan tugas-tugas yang harus dikerjakan dengan tangan dan mesin otak (komputer generasi baru) yang mampu berfikir lebih cepat dari otak manusia sendiri, lalu bagaimana tentang proses menginternalisasikan dan menstransformasikan nilai-nilai iman dan takwa ke dalam lubuk hati manusia. Sampai saat ini kita belum mendengar adanya teknologi transformasi nilai-nilai spiritual itu. Bukan tidak mungkin selepas abad 20 nanti mesin itu akan diciptakan manusia.
Permasalahan baru yang harus dipecahkan oleh pendidikan Islam pada khususnya antara lain adalah dehumanisasi pendidikan, netralisasi nilai-nilai agama atau upaya mengendalikan dan mengarahkan nilai-nilai transisional kepada suatu kawasan yang Ilahi yang kokoh dan tahan banting, baik dalam dimensi individual maupun sosial-kultural.
Di arena perbenturan antar nilai sekuler dan nilai absolutisme dari Tuhan akibat rentannya pola pikir manusia teknologis yang pragmatis-relativistis inilah pendidikan Islam harus hidup mengacu dan membuktikan kemampuan canggihnya. Di sinilah to be or not to be nya (eksistensinya) pendidikan Islam.
Tuntutan masyarakat industrial-teknologis masa kini dan masa datang adalah bahwa pendidikan kita saat ini hanya dijadikan sebagai cabang dari teknologi ilmiah yang paling penting yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Padahal seharusnya pendidikan harus dijadikan pusat-pusat pengembangan peradaban dan kebudayaan umat manusia dalam masyarakat. Kekeliruan pandang demikian memang beralasan bahwa lembaga pendidikan kita dalam beberapa seginya harus dijadikan sumber pengembangan sain dan teknologi dengan menteknologikan proses kependidikan yang berlangsung untuk mencapai outcomes yang seirama dengan kemajuan teknologi itu sendiri. Nilai-nilai apapun tidak lagi diperlukan, karena teknologi pun bebas dari nilai apapun baik yang moral dan yang spriritual. Ini adalah salah satu aspek pandangan pragmatisme.

KEHIDUPAN DUNIA MODERN
Pengertian Kehidupan Modern dan Modernitas
Secara etimologis kata modern diartikan of the present or recent times, new; up to date, artinya modern berarti sekarang, saat ini atau baru. Makna umum dari perkataan modern adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan kehidupan masa kini. Lawan dari modern adalah kuno, yaitu segala sesuatu yang bersangkutan dengan masa lampau. Atas dasar inilah manusia dikatakan modern sejauh kekinian menjadi pola kesadarannya.
Pengertian modernitas berasal dari perkataan "modern” yaitu pandangan dan sikap hidup yang dianut untuk menghadapi masa kini. Kalau kita berbicara tentang masa kini, maka yang dimaksudkan adalah waktu sekarang dan masa depan.  
Modernitas tidak hanya menyangkut soal waktu melainkan juga tentang pembaharuan. Artinya selain seseorang menjadikan kekinian sebagai basis kesadarannya, ia juga harus mempunyai pola-pola pembaharuan dalam kehidupannya. Karena modernisasi secara implikatif, cenderung merupakan proses yang di dalamnya, komitmen pola-pola lama dikikis dan dihancurkan, yang kemudian menyuguhkan pola-pola baru dan pola-pola baru inilah yang diberi status modern. Pembaharuan ini merupakan indikasi bahwa hidup seseorang sudah tidak bergantung lagi pada pakem lama. Maka meskipun seseorang hidup di masa sekarang, apabila kesadaran dan pola hidupnya yang dipakai adalah pola hidup abad pertengahan, maka orang tersebut tidak dikatakan modern. Dengan pengertian demikian itulah maka pembaruan, kemajuan, revolusi dan seterusnya merupakan kata-kata kunci kesadaran modern.
Dalam masyarakat Barat modernisme mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha-usaha untuk mengubah paham-paham, adat-istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya, agar semua itu menjadi sesuai dengan pendapat-pendapat dan keadaan baru yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Lahirnya modernisasi atau pembaharuan di suatu tempat akan selalu beriringan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang saat itu.
Modernisasi atau pembaharuan bisa diartikan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh penerima pembaharuan, meskipun bukan hal baru bagi orang lain. Pembaharuan ini biasanya dipergunakan sebagai proses untuk memperbaiki keadaan yang ada sebelumnya ke cara atau situasi dan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.
Menurut Nurcholis Madjid, modernisasi diartikan sebagai rasionalisasi bukan westernisasi yaitu proses perombakan pola berfikir dan tata kerja lama yang tidak rasional dan menggantinya dengan pola berfikir dan tata kerja baru yang rasional. Jadi modernitas adalah rasionalitas.
Pada umumnya para pakar sepakat bahwa ciri utama yang melatarbelakangi sistem atau model mana pun dari suatu masyarakat modern, adalah derajat rasionalitas yang tinggi dalam arti bahwa kegiatan-kegiatan dalam masyarakat demikian terselenggara berdasarkan nilai-nilai dan dalam pola-pola yang objektif (impersonal) dan efektif (utilitarian), ketimbang yang sifatnya primordial, seremonial atau tradisional. Derajat rasionalitas yang tinggi itu digerakkan oleh perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali disebut sebagai kekuatan pendorong (driving force) bagi proses modernisasi.

Kecenderungan dan Ciri Dunia Modern
1. Kecenderungan Dunia Modern
Ada beberapa pandangan mengenai corak kehidupan di masa modern sekarang ini. Pertama, menurut Daniel Bell, kehidupan di masa sekarang dan mendatang akan ditandai oleh dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan untuk berintegrasi dalam kehidupan ekonomi, dan kecenderungan untuk berpecah belah (fragmentasi) dalam kehidupan politik. Dua kecenderungan ini sudah menjadi kenyataan di berbagai kawasan dunia ini.
Integrasi ekonomi telah terjadi di Eropa dalam bentuk European Union (EU), di Amerika Utara dalam bentuk NAFTA (North American Free Trade Area), di Asia dan Pasifik dalam bentuk APEC (Asia Pacific Economic Cooperation), dan Asia Tenggara dalam bentuk AFTA (Asean Free Trade Area). Dalam pada itu fragmentasi politik terjadi di mana-mana: di bekas negara Yugoslavia, di bekas wilayah Uni Soviet, di berbagai negara di Afrika. Fragmentasi di berbagai kawasan ini terjadi karena berbagai alasan. Kekuatan yang paling potensial untuk menimbulkan fragmentasi ini ialah etnisitas dan agama.
Corak kedua, ialah bahwa globalisasi akan mewarnai seluruh kehidupan di masa mendatang. Salah satu arti “globalisasi” ialah bahwa masalah-masalah tertentu seperti masalah pertumbuhan penduduk, masalah lingkungan, masalah kelaparan, masalah narkotika, masalah HAM-untuk menyebut beberapa contoh-dipandang sebagai persoalan-persoalan yang bersifat global dan menyangkut nasib seluruh umat manusia. Di dalam zaman globalisasi ini, tidak ada satu negara pun yang dapat bersembunyi dari sorotan dunia dan menutup diri terhadap kekuatan-kekuatan global yang terdapat di seluruh dunia.
Globalisasi adalah suatu proses yang berlangsung panjang dan bergerak maju secara dramatis dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. Hal ini dimungkinkan oleh perkembangan yang pesat dalam teknologi, terutama teknologi komunikasi dan bertambahnya arus modal secara bebas. Globalisasi akan menjadikan berbagai bidang sebagai komoditas dan komersil, termasuk pendidikan. Globalisasi juga akan menciptakan kompetisi terbuka di segala bidang. Persoalannya adalah bagaimana meningkatkan daya saing kita agar tetap kompetitif.
Corak ketiga yang banyak pula dikemukakan orang ialah bahwa kemajuan sains dan teknologi yang terus melaju dengan cepatnya ini akan merubah secara radikal situasi dalam pasar tenaga kerja. Kemajuan teknologi menyebabkan pekerjaan-pekerjaan tertentu tidak diperlukan lagi, dan timbullah pekerjaan-pekerjaan baru yang menuntut kecakapan baru. Muncullah tuntutan untuk mampu menyesuaikan diri dengan teknologi baru.
Akibat dari situasi semacam inilah maka “pendidikan ulang” (reeducation) atau “pelatihan ulang” (retraining) menjadi suatu keharusan untuk mempertahankan produktifitas dan untuk mengurangi pengangguran.
Kecenderungan keempat yang banyak disebut-sebut oleh para ahli ialah bahwa proses industrialisasi dalam ekonomi dunia menuju pada penggunaan teknologi tingkat tinggi. Alat-alat produksi dengan teknologi rendah akan “dieksport” dari negara-negara maju ke negara-negara yang ekonominya masih terbelakang. Negara-negara maju akan memusatkan kegiatan ekonomi mereka pada usaha-usaha yang menghasilkan nilai tambah yang cukup tinggi.
Persoalan kita ialah dapatkah kita survive dalam bidang yang menjadi fokus negara-negara maju tersebut?
Kecenderungan kelima adalah bahwa di tahun-tahun mendatang sebagai akibat dari globalisasi informasi ini, akan lahir suatu gaya hidup baru yang mengandung ekses-ekses tertentu. Di antaranya yang dapat kita sebut seperti penyebaran informasi yang sangat cepat tentang obat-obatan yang mengandung narkotika, literatur pornografi, penggunaan senjata api, serta alat-alat mikro elektronika untuk melakukan tindakan kejahatan; informasi seperti ini telah mendorong banyak orang melakukan tindakan-tindakan yang merugikan masyarakat. Inilah contoh-contoh dari ekses yang ditimbulkan oleh perubahan gaya hidup.
2. Ciri-ciri Masyarakat Modern
Menurut Ginanjar Kartasasmita, masyarakat modern selain memiliki ciri utama derajat rasionalitas yang tinggi, juga memiliki ciri-ciri lain yang berlaku umum yaitu :
a. Tindakan-tindakan sosial
Dalam masyarakat tradisional, tindakan-tindakan sosial (social action) lebih bersandar pada kebiasaan atau tradisi, atau prescribed action. Dalam masyarakat modern, tindakan-tindakan sosial akan lebih banyak bersifat pilihan. Oleh karena itu, salah satu ciri yang terpenting dari masyarakat modern adalah kemampuan dan hak masyarakat untuk mengembangkan pilihan-pilihan dan mengambil tindakan berdasarkan pilihannya sendiri.
b. Orientasi terhadap perubahan
Dalam masyarakat pramodern, perubahan berjalan lambat. Dalam masyarakat praagraris perubahan bahkan hampir tidak terjadi selama ribuan tahun. Makin maju masyarakat makin cepat perubahannya. Masyarakat modern adalah masyarakat yang senantiasa berubah cepat, bahkan perubahan itu melembaga. Seperti sering dikatakan “orang modern”: satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan ini merupakan ciri tetapi sekaligus masalah yang senantiasa dihadapi masyarakat modern, karena frekuensinya yang makin cepat, sehingga acapkali tidak bisa diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat. Akibatnya, maka terjadi ketegangan-ketegangan dan bahkan disintegrasi dalam masyarakat yang lebih berat bebannya dan lebih traumatis akibatnya dibandingkan dengan pada masyarakat tradisional yang langka perubahan. Perubahan itu sendiri didorong dan dipercepat oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang sepertinya roda percepatannya bergerak dengan intensitas yang makin tinggi.

c. Berkembangnya organisasi dan diferensiasi
Masyarakat tradisional membutuhkan organisasi yang sangat sederhana, cakupannya terbatas, tugasnya juga terbatas. Diferensiasi dalam organisasi dan pekerjaan kalau pun ada sedikit sekali dan masih bersifat umum.
Dalam masyarakat modern, organisasi berkembang, cakupannya makin luas dan makin rumit. Bersamaan dengan itu, berkembang spesialisasi. Makin maju suatu masyarakat makin tajam spesialisasi yang diperlukan. Berkembangnya spesialisasi atau diferensiasi baik dalam kelembagaan maupun pekerjaan juga didorong oleh berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan tidak bisa seseorang atau lembaga menguasai atau menangani semua hal atau terlalu banyak hal. Oleh karena itu ada yang mengatakan bahwa “orang modern” adalah “orang organisasi” (organization man).
3. Manusia Modern: Sisi Positif dan Negatif
Menurut Alex Inkeles dan David H. Smith. (1974) dalam bukunya Becoming Modern, sebagaimana dikutip Kartasasmita menyebutkan sembilan ciri manusia modern, yaitu: (1) terbuka terhadap inovasi, perubahan, penanggungan risiko, dan terhadap gagasan-gagasan baru; (2) tertarik dan memiliki kemampuan membentuk pandangan-pandangan mengenai isu-isu yang berada di luar lingkungannya; (3) lebih demokratis, terutama dalam hal pengakuan dan toleransi terhadap perbedaan pendapat; (4) lebih berorientasi terhadap masa kini dan masa depan daripada masa lalu; (5) menempatkan masa depan dirinya ke dalam suatu perencanaan, visualisasi, dan pengorganisasian untuk mewujudkannya; (6) cenderung tidak menerima keadaan sebagai nasib dan berpandangan bahwa keadaan dunia ini dapat diperkirakan dan terbuka untuk kendali manusia; (7) menghargai hak-hak orang lain tanpa memandang status tradisionalnya sehingga pandangannya terhadap peran wanita dan anak-anak menjadi positif; (8) menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagi instrumen untuk mengendalikan alam; (9) memiliki pandangan bahwa manusia harus dihargai berdasarkan kontribusinya terhadap masyarakat, bukan berdasarkan status.
Selain karakteristik yang bersifat positif di atas, dari berbagai literatur, dapat dijumpai sekurang-kurangnya delapan “penyakit” yang terdapat dalam masyarakat modern. Pertama, disintegrasi antar ilmu pengetahuan (spesialisasi yang terlampau kaku) yang berakibat pada terjadinya pengkotak-kotakan akal fikiran manusia dan cenderung membingungkan masyarakat. Kedua, kepribadian yang terpecah (split personality) sebagai akibat dari kehidupan yang dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang terlampau terspesialisasi dan tidak berwatak nilai-nilai ketuhanan. Ketiga, dangkalnya rasa keimanan, ketaqwaan serta kemanusiaan, sebagai akibat dari kehidupan yang terlampau rasionalistik dan individualistik. Keempat, timbulnya pola hubungan yang materialistik sebagai akibat dari kehidupan yang mengejar duniawi yang berlebihan. Kelima, cenderung menghalalkan segala cara, sebagai akibat dari paham hedonisme yang melanda kehidupan. Keenam, mudah stress dan frustasi, sebagai akibat dari terlampau percaya dan bangga terhadap kemampuan dirinya tanpa dibarengi sikap tawakkal dan percaya pada ketentuan Tuhan. Ketujuh, perasaan terasing di tengah-tengah keramaian (lonely), sebagai akibat dari sifat individualistik dan delapan, kehilangan harga diri dan masa depannya, sebagai akibat dari perbuatan yang menyimpang.

PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENYIKAPI KEHIDUPAN DUNIA MODERN
Sikap kita terhadap modernitas
Modernitas sering dicurigai dan bahkan dimusuhi oleh kaum agamawan tradisional. Modernitas tidaklah identik dengan paham materialisme. Modernitas adalah kemajuan jaman sebagai berkah dari ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan materialisme adalah paham yang menganggap bahwa hanya materi yang eksis dan yang non-materi hanyalah ilusi para penganut agama (believers). Modernitas, meski dapat menumbuhkan paham materialisme, tidaklah bertentangan dengan paham keagamaan. Islam pada fitrahnya adalah agama yang universal sehingga dianggap mampu untuk mengikuti perkembangan jaman semodern apapun. Islam tidak menganggap haram materi ataupun kekayaan meskipun menolak paham materialisme yang beranggapan bahwa materilah yang paling penting dan menolak segala hal yang berbau spiritual, termasuk keberadaan Tuhan. Sebaliknya, Islam menyodorkan keseimbangan dalam memandang kehidupan dunia dan kehidupan akhirat dan Tuhanlah asal segala sesuatu. Dengan demikian mesti dipahami bahwa modernitas sebagai konsekuensi dari kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah ‘musuh’ dari paham ketuhanan ataupun agama yang perlu kita tentang atau jauhi. Perlu diakui bahwa beberapa aspek kehidupan gemerlap dari Barat, tidaklah semuanya buruk dan ‘sesat'. Tidak ada yang salah jika generasi muda menggunakan celana jeans, makan ‘fast food’ (lepas dari masalah kesehatannya), dan mendengarkan musik pop sepanjang mereka tetap berpegang teguh pada dasar-dasar keimanan tentang Allah dan perintah-perintahNya. Jika seorang remaja memiliki kesadaran dan pemahaman tentang aturan-aturan agama yang dianutnya maka ia akan lebih percaya diri dan mampu menghadapi kehidupan modern tanpa harus tercebur dan terseret oleh eksesnya yang berwujud paham materialisme. Seorang remaja yang agamis perlu memahami dan terbuka terhadap kesempatan dan tawaran dari dunia modern tapi tetap sadar akan pentingnya memegang integritas dan standar moral dari keyakinan agama yang dimilikinya.
Masalah inti yang perlu ditanamkan adalah keimanan akan Tuhan dan memandang dunia dengan pikiran dan hati berdasarkan ketuhanan. Jika seseorang telah menancapkan keimanan dalam hatinya dengan teguh maka ia tidak perlu menutup diri terhadap perubahan ataupun datangnya budaya asing. Jika ia telah mencapai kesadaran penuh tentang Tuhan maka ia sebenarnya telah berjalan dalam bimbingan dan cahaya Tuhan. Pemahamannya akan ketuhanan (divinity) ataupun spiritualitas akan memberikan filter baginya dalam menghadapi berbagai paham lain yang bertentangan dengan paham yang diyakininya Lantas bagaimana generasi muda dapat memperoleh kesadaran tersebut?
Untuk menjawabnya kita mesti memahami masalah yang kita hadapi terlebih dahulu. Ekses yang timbul dari modernitas adalah semakin kuatnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi dan semakin ditinggalkannya pemikiran yang bersifat ketuhanan (divine). Kehidupan modern dapat membuat orang merasa tidak lagi memerlukan Tuhan dalam kehidupannya. Mereka merasa bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan segala hal yang mereka butuhkan dalam kehidupan dan ‘Tuhan telah mati’. Iklan-iklan menggempur kita dengan kebohongan bahwa kita bisa berbahagia jika menggunakan produk-produk tertentu. Perusahaan asuransi lebih dipercayai daripada janji Tuhan dalam buku suci. Ilmu pengetahuan populer menyodorkan teori bahwa alam semesta ini muncul dengan sendirinya karena hukum alam semata.  Ini semuanya berdasar pada paham materialisme yang merupakan musuh bersama dari umat beragama dan bukan modernitas itu sendiri.
Transformasi Pendidikan Islam
Untuk menjawab tantangan modernitas tersebut, pendidikan Islam perlu melakukan perubahan-perubahan yang signifikan terutama berkaitan:
Visi dan Orientasi Pendidikan Islam
Dampak globalisasi sebagai akibat dari kemajuan di bidang informasi sebagaimana disebutkan di atas terhadap peradaban dunia merujuk kepada suatu pengaruh yang mendunia. Kecenderungan seperti itu harus diantisipasi oleh dunia pendidikan jika ingin menempatkan pendidikan pada visi sebagai agen pembangunan dan perkembangan yang tidak ketinggalan zaman. Dalam konteks ini, pendidikan sebagaimana dinyatakan Amir Faisal, harus mampu menyiapkan sumberdaya manusia yang tidak sekedar sebagai penerima arus informasi global, tetapi juga harus memberikan bekal kepada mereka agar dapat mengolah, menyesuaikan dan mengembangkan segala hal yang diterima melalui arus informasi itu, yakni manusia yang kreatif dan produktif. Manusia yang kreatif dan produktif inilah menurut Mochtar Buchori yang harus dijadikan visi pendidikan, termasuk pendidikan Islam, karena manusia yang demikianlah yang didambakan kehadirannya baik secara individual, sosial, maupun nasional.
Problema yang dihadapi manusia modern, menghendaki visi dan orientasi pendidikan yang tidak semata-mata menekankan pada pengisian otak tetapi juga pengisian jiwa, pembinaan akhlak dan kepatuhan dalam menjalankan ibadah. Yaitu suatu upaya yang mengintegrasikan berbagai pengetahuan yang terkotak-kotak kedalam ikatan tauhid, yaitu suatu keyakinan bahwa ilmu-ilmu yang dihasilkan lewat penalaran manusia itu harus dilihat sebagai bukti kasih sayang Tuhan kepada manusia, dan harus diabdikan untuk beribadah kepada Tuhan melalui karya manusia yang ikhlas.
Dalam situasi pendidikan yang demikian itu, pendidikan Islam harus memainkan peran dan fungsi kultural, yaitu suatu upaya melestarikan, mengembangkan, dan mewariskan cita-cita masyarakat yang didukungnya. Dalam fungsi ideal ini pula sebuah lembaga pendidikan Islam juga bertugas untuk mengontrol dan mengarahkan perkembangan masyarakat.
Strategi Pembelajaran
Secara moral berbagai persoalan yang timbul sebagai akibat dari kemajuan, merupakan tanggung jawab kalangan dunia pendidikan, untuk mencari akar pemecahannya melalui strategi pembelajaran yang efektif dan efisien. Secara sosiologis ada beberapa strategi pembelajaran yang diperkirakan dapat mengatasi permasalahan tersebut di atas di antaranya kalangan dunia pendidikan perlu merumuskan visinya yang jelas terhadap penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Dunia pendidikan seharusnya melihat strategi belajar mengajar sebagai upaya yang bertujuan membantu para lulusan agar dapat melakukan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dalam rangka ibadah kepada Allah.
Jika visi tentang lulusan lembaga pendidikan tersebut disepakati, maka konsekuensinya perlu dirumuskan kembali mengenai konsep kurikulum yang lebih berorientasi pada konstruksi sosial, yaitu kurikulum yang dirancang dalam rangka melakukan perubahan sosial. Kurikulum semacam ini sifatnya dinamis, karena apa yang dirancang akan disesuaikan dengan tuntutan perubahan sosial.
Tahap selanjutnya adalah mengembangkan paradigma pembelajaran student centered, sehingga siswa terlatih untuk bersikap kreatif, mandiri dan produktif. Sikap yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi masyarakat yang maju. Kondisi semacam ini akan menciptakan masyarakat belajar (learning society).
Keterpaduan antara ilmu agama dan umum
Keterpaduan antara berbagai disiplin ilmu umum dan keterpaduan antara disiplin ilmu umum dan ilmu agama perlu dilakukan, tanpa mengorbankan spesialisasi yang menjadi ciri masyarakat modern. Dalam hal ini spesialisasi harus dilakukan dalam hubungannya dengan pembidangan yang secara teknis memang harus dilakukan mengingat tidak mungkin di masa sekarang ini setiap orang dapat menguasai keahlian dalam berbagai bidang disiplin ilmu. Namun spesialisasi itu harus ditempatkan dalam kerangka saling berhubungan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya.
Pemikiran keterpaduan antara ilmu umum dan ilmu agama ini pada tahap selanjutnya membawa kepada timbulnya konsep islamisasi ilmu pengetahuan yang menjadi bahan diskusi yang sampai saat ini belum selesai.
Penerapan Akhlak tasawuf
Kehidupan modern yang materialistik dan hedonistik dengan segala akibatnya yang saat ini mulai melanda kalangan dunia pendidikan perlu diimbangi dengan penerapan akhlak tasawuf. Adanya pemalsuan ijazah oleh oknum kepala sekolah, diterimanya siswa yang NEMnya rendah dengan sarat ada uang pelicin, pemberian beban biasa kepada siswa yang tidak dibarengi dengan oeningkatan mutu pendidikan dan sebagainya adalah merupakan akibat arus globalisasi yang telah melanda dunia pendidikan. Jika dunia pendidikan saja sudah demikian keadaannya, maka lembaga mana lagi yang dapat dijadikan tempat menaruh harapan masa depan bangsa.
Keadaan dunia pendidikan seperti demikian itu, diperparah dengan beredarnya obat-obat terlarang di sekolah-sekolah. Berbagai tindakan yang paling aman dan gangpang bagi sekolah adalah mengeluarakan siswa yang jelas-jelas terlibat dalam penyalahgunaan obat-obat terlarang itu. Perlu dipikirkan cara lain agar tidak mengorbankan pihak manapun.
Alternatif lain yang perlu dikembangkan dalam mengatasi masalah tersebut di atas adalah dengan mengamalkan ajaran akhlak tasawuf. Ajaran akhlak tasawuf perlu disuntikkan ke seluruh bidang studi yang diajarkan sekolah. Menurut Jalaludin Rakhmat, sekarang ini di seluruh dunia timbul kesadaran betapa pentingnya memperhatikan etika dalam pengembangan sains. Di beberapa negara maju telah didirikan “lembaga pengawal moral” untuk sains. Yang paling terkenal adalah the institute of society, ethic and life. Kini telah disadari bahwa sulit bagi ilmuwan eksperimental mengetahui apa yang tidak boleh diketahui. Ternyata sains tidak boleh dibiarkan lepas dari etika kalau tidak ingin senjata makan tuan.

PENUTUP
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa kehidupan dunia modern yang membawa pada era globalisasi, ternyata telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap dunia pendidikan. Berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan, mulai dari materi, guru, metode, sarana dan prasarana, lingkungan dan pola hubungan antara guru dan murid perlu ditata ulang untuk disesuaikan dengan tuntutan zaman. Hal ini perlu dilakukan, jika dunia pendidikan ingin tetap bertahan secara fungsional dalam memandu perjalanan umat manusia. Dunia pendidikan di masa sekarang benar-benar dihadapkan pada tantangan yang berat yang penanganannya memerlukan keterlibatan berbagai pihak yang terkait.
Demikian makalah ini kami susun dengan segala keterbatasan yang ada. Untuk itu saran, masukan dan kritik yang membangun kami nantikan demi perbaikan makalah ini.



























DAFTAR PUSTAKA

Al-Syaibany, Omar Moh. Al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979).
Arifin, H.M., Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 2000).
Buchori, Mochtar, Ilmu Pendidikan dan praktik Pendidikan, (Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta, 1994).
______________, Pendidikan Antisipatoris, (Yogyakarta: Kanisius, 2001).
Darma, Satria, Sekolah Berbasis Keagamaan Dan Tantangan Bersama Di Masa Depan,dalam http://klubguru.com/view.php?subaction=showfull&id=1236307194&archive=&start_from=&ucat=3&
Faisal, Jusuf Amir, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).
Harminto , HM., , Napza Pembunuh Berdarah dingin, dalam http://www.suaramerdeka.com/harian/0506/25/x_nas.html
Hidayat, Komarudin, Upaya pembebasan Manusia Tinjauan Sufistik terhadap Manusia Modern Menurut Nasr, dalam Dawam Rahardjo, (ed), Insan Kamil Konsepsi Manusia menurut Islam, (Jakarta: Grafiti Press, 1987).
Husein, Torsten, Masyarakat Belajar, Terj. P. Surono Hargosewoyo dan Yusuf Hadi Miarso dari judul asli: The Learning society, (Jakarta: CV. Rajawali Press, 1988)
Kartasasmita, Ginandjar, Karakteristik dan Struktur Masyarakat Indonesia Modern, Makalah Disampaikan pada Uji Sahih Penyusunan Konsep GBHN 1998,Yogyakarta, 29 Juni 1997.
Khobir, Abdul, Filsafat Pendidikan Islam Landasan Teoritis dan Praktis, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2007).
Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1987)
Madjid, Nurcholis, Islam Agama Peradaban, (Jakarta:Paramadina, 1995)
________________, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1997).
Manser, Martin H., Oxford Learner’s Dictionary, (Oxford: Oxford University Press, 1995).
Nasution, Harun, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1997).
Nasution, S., Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991)
Nata, Abuddin, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2003).
Noer, Deliar, Pembangunan di Indonesia (Jakarta: Mutiara, 1987), hal. 24.
Rahmat, Jalaludin, Islam menyongsong Peradaban Dunia Ketiga, dalam Ulumul Qur’an, Vol. 2, 1989.
_____________, Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1991)
Saleh, Abdul Rahman, Konsepsi dan Pengantar Dasar Pembaharuan Pendidikan Islam, (Jakarta: DPP GUPPI, 1993).
Sayidiman Suryohadiprojo, Makna Modernitas dan Tantangannya terhadap Iman, dalam http://sayidiman.suryohadiprojo.com/?p=198
Shihab, Quraysh, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996)
Soyomukti, Nurani, Pendidikan Berspektif Globalisasi, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008).
Surya, H. Mohamad, Bunga Rampai Guru dan Pendidikan, (Jakarta: Balai Pustaka, 2004).
Wijaya, Cece, et.al., Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1992).

MADRASAH DAN MOBILITAS KONTES (Upaya menuju Madrasah yang Kompetitif)

PENDAHULUAN

Madrasah merupakan bagian dari aset bangsa yang secara regional maupun nasional telah menunjukkan perannya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Data nasional yang dirilis Departemen Agama tahun 2007 menunjukkan terdapat kelembagaan madrasah yang jumlahnya cukup signifikan. Jumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) ada 22.610, dari jumlah itu MI Swasta mencapai 21.042 atau 93,07%, sedangkan MI Negeri hanya 1.569 buah atau 6,93%. Kemudian jumlah Madrasah Tsanawiyah (MTs) ada 12.498, dari jumlah itu, 11.234 atau 89,89% MTs berstatus swasta, dan MTs Negeri hanya 1.264 buah atau 10,11%. Pada tingkat Madrasah Aliyah (MA), secara keseluruhan jumlah MA 4.918 buah, dari jumlah tersebut, 4.278 atau 86,98% di antaranya berstatus swasta, sedangkan MA Negeri hanya 640 buah atau 13,02%. Jumlah madrasah ini secara kuantitas mempunyai kecenderungan bertambah terus rata-rata mencapai 3% per tahun.
Eksistensi madrasah tampaknya memiliki kekhasan tersendiri. Kekhasan itu adalah dominasi swasta pada penyelenggaraan madrasah. Hal ini membawa implikasi bahwa pasang surut madrasah sangat bergantung pada kondisi dan dinamika masyarakat setempat. Semakin maju tingkat perekonomian dan kualitas keberagamaan masyarakat setempat, maka akan semakin baik kualitas dan penyelenggaraan madrasah.