Minggu, 27 Juni 2010

URGENSI MANAJEMEN KELAS GUNA MEWUJUDKAN GURU EFEKTIF

A. PENDAHULUAN
Kelas merupakan wahana paling dominan bagi terselenggaranya proses pembelajaran bagi peserta didik di sekolah. Kedudukan kelas yang begitu penting mengisyaratkan bahwa tenaga kependidikan yang profesional yang dikehendaki, terutama guru, harus profesional dalam mengelola kelas bagi terselenggaranya proses pendidikan dan pembelajaran yang efektif dan efisien.(Sudarwan Danim, 2002: 161).

Baca Selengkapnya
Kelas adalah "kekuasaan" terbesar guru. Maksudnya, entah ia seorang guru kelas atau guru mata pelajaran, ia mempunyai kekuasaan amat besar untuk mengelola kelasnya.(JC. Tukiman Taruna, 2002). Dalam proses penyelenggaraan pendidikan peranan guru sangat menentukan, seorang guru yang telah merencanakan proses pembelajaran di kelas, dituntut mampu mengenal, memahami, dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan minat dan potensi anak didiknya agar mereka tidak merasakan pemaksaan selama pembelajaran berlangsung, oleh sebab itu guru di dalam kelas adalah seorang manajer yang mempunyai tugas dan tanggung jawab menciptakan, mengatur, dan mengelola kelas secara efektif dan menyenangkan.
Berhasil tidaknya pembaruan dalam pendidikan, entah di tingkat nasional maupun lokal, sangat bergantung pada interpretasi para guru terhadap kebijakan pembaruan tersebut dalam pertemuan mereka dengan siswa di dalam kelas. Pembaruan kurikulum di tingkat nasional, misalnya tidak akan efektif jika para guru tidak pernah menerapkannya di dalam kelas.
Hampir seluruh hasil survai mengenai keefektifan guru (teacher effectiveness) melaporkan bahwa keterampilan manajemen kelas (classroom management skills) menduduki posisi primer dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran yang diukur dari efektifitas proses belajar siswa atau peringkat yang dicapainya. Dengan demikian keterampilan manajemen kelas sangat krusial dan fundamental dalam mendukung proses pembelajaran. Guru-guru yang rendah keterampilannya dalam bidang manajemen kelas, barangkali tidak dapat menyelesaikan banyak hal yang menjadi tugas pokoknya. (Danim, 2002: 190).
Berangkat dari urgensi manajemen kelas bagi guru yang efektif di atas, makalah ini akan mengupas konsep dasar mengenai manajemen kelas serta bagaimana guru-guru hendaknya mengaplikasikan konsep tersebut dalam tataran praktis sehingga menjadi sosok guru yang efektif dalam proses pembelajaran.
B. MANAJEMEN KELAS DAN GURU EFEKTIF
1. Pengertian Manajemen Kelas
Manajemen kelas adalah sebuah idiom yang dikonstruksi dari kata dasar manajemen dan kelas. Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif perlu dijelaskan satu persatu definisi dari masing-masing.
Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat dan profesi. Dikatakan sebagai ilmu oleh Luther Gulick sebagaimana dikutip oleh Nanang Fatah (2000:1) karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Dikatakan sebagai kiat oleh Follet karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain dalam menjalankan tugas. Dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para profesional dituntun oleh suatu kode etik.
Meskipun cenderung mengarah pada satu fokus tertentu, para ahli masih berbeda pandangan dalam mendefinisikan manajemen dan karenanya belum dapat diterima secara universal. Namun demikian terdapat konsensus bahwa manajemen menyangkut derajat keterampilan tertentu.
Koontz dan Weihrich (1990:4) sebagaimana dikutip Danim (2002:164) mengemukakan definisi manajemen sebagai “the process of designing and maintaining an environment in which individuals working together in groups, efficiently accomplish selected aims.” Manajemen karenanya merupakan proses mendesain dan memelihara lingkungan, yang individunya bekerja bersama dalam kelompok untuk mencapai tujuan tertentu secara efisien. Scanlan dan Key (1979:7) mendefinisikan manajemen sebagai proses pengoordinasian dan pengintegrasian semua sumber, baik manusia, fasilitas maupun sumber daya teknikal lain untuk mencapai berbagai tujuan khusus yang ditetapkan. Terry mendefinisikan manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, aktuasi, pengawasan; baik sebagai ilmu maupun seni untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Dari definisi para ahli di atas, tampaknya pendekatan pengalaman manajer digunakan untuk memahami istilah manajemen. Manajemen di sini dilihat sebagai suatu sistem yang setiap komponennya menampilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan. Manajemen juga dipandang sebagai suatu proses yang melibatkan fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang manajer, yaitu perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pemimpinan (Leading), dan Pengawasan (Controlling). Oleh karena itu, manajemen diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.
Sedangkan yang dimaksud dengan kelas (Classroom) terkandung beberapa pengertian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1995), kelas didefinisikan sebagai ruang tempat belajar di sekolah. Hornby dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary (1986) mendefinisikan kelas (class) sebagai group of students taught together atau location when this group meets to be taught. Dengan demikian kelas merupakan sekelompok siswa yang diajar bersama atau suatu lokasi ketika kelompok itu menjalani proses pembelajaran pada tempat dan waktu yang diformat secara formal. Classroom, oleh Hornby (1986) didefinisikan sebagai room where a class of pupils or students is taught atau ruang tempat sekelompok siswa diajar atau menjalani proses pembelajaran. Pada tataran paling awam, kelas bermakna “tingkatan” untuk menunjukkan status atau posisi anak di sekolah tertentu, misalnya kelas I, kelas II, dan sebagainya.
Definisi kelas di atas tidak sepenuhnya relevan dijadikan acuan untuk menjelaskan tempat terjadinya proses pembelajaran, kecuali kalau proses pembelajaran diidentikkan dengan pertemuan kelas belaka. Dalam konteks interaksi guru dengan siswa, proses pembelajaran dapat terjadi di luar kelas, laboratorium, objek-objek bernilai sejarah, dan lain-lain. Kesemuannya itu menuntut pula kemampuan manajemen (management capability) bagi penciptaan proses pembelajaran.
Merujuk pada definisi manajemen dan kelas, Sudarwan Danim (2002:167-168) mendefinisikan manajemen kelas sebagai berikut:
a. Manajemen kelas adalah seni atau praksis (praktik dan strategi) kerja, yaitu guru bekerja secara individu, dengan atau melalui orang lain (semisal bekerja dengan sejawat atau siswa sendiri) untuk mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Di sini sumber daya kelas merupakan instrument, proses pembelajaran sebagai inti dan hasil belajar sebagai muaranya.
b. Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh guru, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain (semisal dengan sejawat atau siswa sendiri) untuk mengoptimalkan proses pembelajaran.
c. Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, aktuasi, dan pengawasan yang dilakukan oleh guru, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien dengan cara memanfaatkan segala sumber daya yang ada.
Definisi manajemen kelas telah mengalami pergeseran secara paradigmatik meskipun esensi dan tujuannya relatif sama, yaitu terselenggaranya proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Efisiensi dan efektifitas pembelajaran diukur menurut nilai-nilai pendidikan yang dianut pada saat itu. Adapun nilai-nilai yang dimaksud bisa nilai-nilai perjuangan, kognitif, afeksi, solidaritas sosial, moralitas, keagamaan, dan sebagainya yang dikaitkan dengan sumber daya yang digunakan.

2. Perspektif Sejarah Manajemen Kelas
Konsep manajemen kelas hingga mencapai bentuknya sekarang telah menempuh perjalanan sejarah cukup panjang atau mengalami evolusi. Hal ini, antara lain ditentukan oleh pemikiran filosofis kependidikan, kemajuan budaya masyarakat, dan skema pemikiran mengenai makna kelas. (Danim, 2002:177). Kemajuan ilmu pengetahuan dan pengalaman bidang pendidikan turut berpengaruh. Lebih dari empat dekade terakhir ini, terutama sejak tahun 1960-an hingga sekarang, pendekatan atau metode yang dipakai dalam proses manajemen kelas telah mengalami perubahan cukup drastis, dengan tetap memosisikannya memiliki kaitan erat satu sama lain.
a. Pendekatan Konseling
Sejak tahun 1960-an hingga tahun 1970-an, fokus utama manajemen kelas adalah menciptakan kondisi disiplin siswa (students discipline) agar tetap pada relnya, kondusif bagi kegiatan pembelajaran.
Jadi manajemen kelas berfokus pada penegakan disiplin anak didik. Siswa bermasalah atau yang berperilaku secara deviatif menjadi fokus perhatian. Dengan pendekatan konseling ini, siswa digiring kesadarannya untuk bertanggung jawab atas perilakunya dan mengembangkan rencana untuk meredusir kecenderungan tindakan yang tidak produktif. Guru berusaha untuk mengidentifikasi factor penyebab perilaku siswa yang menyimpang sekaligus mencari jawaban untuk memecahkan masalah tersebut secara konsepsional dan praktis.
b. Pendekatan Behavioristik
Inti pendekatan behavioristik adalah memodifikasi perilaku siswa yang dilakukan oleh guru. Perubahan perilaku ini sangat tergantung kepada kesadaran peserta didik. Sejak tahun 1970-an, kebanyakan pelatihan diberikan kepada guru berfokus pada upaya mencari pemecahan atas perilaku menyimpang yang dilakukan oleh para siswa dengan jalan menerapkan teknik-teknik modifikasi perilaku (behavior modification techniques) menuju perilaku yang dikehendaki, tanpa mengabaikan kebebasan siswa.
c. Pendekatan Penelitian Keefektifan Guru
Setelah era pendekatan behavioristik pada 1970-an, pada era selanjutnya inisiatif dibuat dengan menonjolkan peran guru untuk menemukan konsep yang memungkinkan pencegahan terhadap perilaku menyimpang siswa. Pendekatan ini disebut teacher effectiveness research, penelitian kefektifan guru. Fokus utamanya terletak pada perilaku efektif guru dalam mengelola perilaku dan perbuatan siswa, khusunya berkaitan dengan (a) keterampilan guru dalam mengorganisasi dan mengelola aktifitas kelas; (b) keterampilan guru dalam menyajikan material belajar; (c) hubungan guru murid.
d. Pendekatan Keterampilan Guru dalam Pengorganisasian dan Pengelolaan
Intinya adalah bagaimana guru dapat mengorganisir dan mengelola kelas secara efektif, dengan kriteria keberhasilan, antara lain diukur dengan minimnya perilaku menyimpang dari kalangan siswa. Dengan kata lain, jika dikelola secara efektif, kelas akan berjalan secara smoothly. Di sini, kelas diorganisasikan sedemikian rupa. Siswa, guru bidang studi, guru kelas, dan wali kelas berada dalam kondisi sinergis. Setiap kegiatan di kelas dilakukan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang cermat. kepada anak didik pun ditanamkan apa tugas pokok dan fungsinya, siapa mengerjakan apa dan siapa bertanggung jawab kepada siapa.
Menurut Lois V. Johnson dan Mary Bany (1970:9) pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru dalam memutuskan tindakan yang harus didasarkan pada pengertian tentang sifat-sifat kelas, kekuatan yang mendorong mereka (siswa) bertindak, selanjutnya berusaha untuk memahami dan mendiagnosis situasi kelas dan kemampuan untuk bertindak selektif serta kreatif untuk memperbaiki suasana (kondisi) kelas.
Dengan demikian, pengelolaan kelas adalah suatu alat untuk mengembangkan kerjasama dan dinamika kelas yang stabil, kendatipun banyak gangguan dan perubahan dalam lingkungan. Fungsi pengelolaan kelas ditinjau dari analisis problem, menurut Lois V. Johnson dan Mary Bany (1970) adalah (a) memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas; (b) memelihara agar tugas-tugas itu dapat berjalan dengan lancar.
Fungsi tersebut dapat dijabarkan menjadi beberapa tugas yang harus dilakukan guru dalam kegiatan pengelolaan kelas: (a) membantu kelompok dalam membagi tugas; (b) membantu pembentukan kelompok; (c) membantu kerjasama dalam menemukan tujuan-tujuan organisasi; (d) membantu individu agar dapat bekerja sama dalam kelompok atau kelas; (e) membantu prosedur kerja; dan (f) mengubah kondisi kelas.



3. Faktor Penentu Efektifitas Manajemen Kelas
Peningkatan kemampuan dan keahlian guru dalam bidang subject matter dan metodologi pembelajaran adalah esensial. Ketika kondisi sekolah semakin kompleks, ukuran rombongan belajar semakin membengkak, beban mengajar dan belajar semakin intensif dan ekstensif, sumber dan fasilitas pembelajaran semakin modern, tingkat stress dan keteralienasian semakin menggejala, dan prosedur kerja makin perlu dipercanggih, maka terminologi pengajaran yang dikenal selama ini mengalami perluasan makna, yaitu makin lazim disebut manajemen kelas. Implisit di sini, inisiatif guru untuk meningkat efektifitas pembelajaran minimal satu tingkat lebih baik dari pada sebelumnya meniscayakan kapasitasnya untuk memotivasi dan mengelola siswa secara signifikan.
Sejalan dengan itu, penelitian mengenai bagaimana kelas dapat dikelola semakin memekarkan wajahnya, lebih dari sekedar berfokus pada perilaku siswa dan proses belajarnya. Perilaku belajar dan proses belajar memang penting, namun demikian, tidak kalah pentingnya, bahkan yang lebih penting adalah bagaimana guru dapat mengelola kelas secara efektif dan efisien, antara lain bagi penciptaan metode untuk memfasilitasi siswa agar berperilaku positif dan berprestasi tinggi.
Dari hasil riset yang dilakukan sekitar tahun 1980-an hingga tahun 1990-an, secara ringkas dapat dijelaskan mengenai faktor utama (major factor) atau area keterampilan yang terpaut dengan manajemen kelas yang efektif. (Danim, 2002:187) Kelima faktor tersebut meliputi:
a. Pengembangan soliditas pemahaman personal atau psikologis siswa dan kebutuhan-kebutuhan belajar.
b. Pemapanan hubungan positif antara guru dan siswa serta antar siswa untuk membantu menemukan kebutuhan dasar psikologis siswa.
c. Pengimplementasian metodologi pengajaran yang memfasilitasi belajar optimal dengan jalan member respon terhadap kebutuhan-kebutuhan akademik (academic needs) siswa dan kelompok kelas.
d. Penggunaan metode organisasi dan pengelolaan kelompok yang dapat memaksimalkan perilaku tugas (on task behavior) siswa.
e. Penggunaan metode-metode konseling dan penataan perilaku yang diperluas untuk membantu siswa yang tidak tepat dalam menjawab soal-soal ujian atau mengalami misperilaku.
Tidak mudah bagi guru untuk mengimplementasikan berbagai tuntutan dengan metode yang benar-benar mengakar. Sangat mungkin mereka akan menjalankan rekomendasi tersebut secara selektif, dengan memperhatikan kondisi riel gaya mengajarnya, tujuan belajar, kebutuhan siswa dan berbagai variabel kontekstual lainnya. Hal ini karena tidak setiap hasil penelitian dapat di terapkan pada semua situasi.
Meskipun demikian, ada beberapa hal yang harus dipahami oleh seorang guru kalau dia ingin tampil efektif. Dalam kaitan ini, ia harus dirangsang dan terutama merangsang diri untuk memahami variable-variabel kontekstual yang diduga berpengaruh terhadap efektifitas perbuatan mengajar, seperti tujuan pengajaran, usia anak, masalah gender, tingkat sosial ekonomi, budaya dan kapasitas kognitifnya. Seperti dikemukakan Everton (1976) pengajaran yang efektif menuntut kemampuan guru untuk mengimplementasikan sederetan dimensi yang luas dari diagnostic, pengajaran, manajerial, keterampilan terapi, merajut perilaku pada konteks dan situasi khusus hingga kebutuhan-kebutuhan spesifik menurut momennya. Situasi ini semakin menegaskan bahwa kemampuan dalam bidang manajemen, dalam hal ini manajemen kelas, merupakan salah satu syarat guru yang efektif.
4. Langkah-langkah Aplikatif Menjadi Manajer Kelas yang Efektif
Menurut Sukarna (2009), Untuk meningkatkan kemampuan guru sebagai manajer kelas, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan yaitu pertama, bertindak sebagai pengasuh, teladan, dan pembimbing. Seorang guru harus memperlakukan siswa dengan penuh cinta dan rasa hormat, mengondisikan terciptanya keteladanan yang baik, mendukung perilaku sosial yang positif, dan memperbaiki perilaku yang merusak.
Kedua, menciptakan sebuah komunitas moral. Para guru semestinya membantu siswa untuk dapat saling menghargai dan memandang setiap siswa sebagai pribadi yang unik. Menciptakan komunitas moral seperti ini tidak mudah mengingat tekanan kelompok sebaya bisa sangat kuat terjadi di dalam kelas. Kultur menyontek, misalnya, akan membuat mereka yang berusaha menghayati nilai-nilai kejujuran tersingkirkan, sebab tekanan kelompok sebaya di dalam komunitas begitu kental. Situasi seperti ini bisa diperbarui ketika guru mampu menciptakan komunitas moral di dalam kelas.
Ketiga, menegakkan disiplin moral melalui pelaksanaan kesepakatan yang telah ditentukan sebagai aturan main bersama. Tegaknya peraturan moral di dalam kelas menjadi sebuah kesempatan bagi para siswa untuk menguji dan memaknai perilaku bersama tadi melalui penalaran mereka sehingga mereka dapat menghayati kebebasan mereka selaras dengan kesepakatan bersama tadi. Siswa pada akhirnya akan mengerti bahwa peraturan itu, meskipun mengikat mereka, tidaklah membatasi kebebasan mereka. Sebaliknya, mereka belajar mengerti bahwa hidup bersama memerlukan sebuah penghayatan dan kebebasan yang bertanggung jawab bagi yang lain, sebab hanya dengan cara demikian mereka dapat menghargai satu sama lain.
Keempat, menciptakan sebuah lingkungan kelas yang demokratis, dengan cara melibatkan para siswa dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab bagi terbentuknya kelas sebagai tempat belajar yang menyenangkan. Untuk inilah dalam setiap proses pembelajaran perlu diusahakan bahwa dalam hal pendalaman materi, setiap siswa dapat memiliki otonomi, dalam arti, mereka memiliki alternative pilihan materi yang akan diajarkan.
Kelima, mempergunakan metode pembelajaran melalui kerja sama agar siswa semakin mampu mengembangkan kemampuan mereka dalam memberikan apresiasi atas pendapat orang lain, berani memiliki pendapat sendiri, mau dan mampu bekerja sama dengan yang lain demi berhasilnya tujuan bersama.
Keenam, membangun sebuah rasa tanggung jawab bagi pembentukan diri dalam diri siswa dengan cara memberikan penghargaan atas kesediaan para siswa untuk belajar, menyemangati kemampuan mereka untuk dapat bekerja keras, memiliki komitmen pada keunggulan, dan penghayatan akan nilai kerja yang dapat mempengaruhi kehidupan orang lain.
Ketujuh, mengajak siswa agar berani memikirkan dan mengolah persoalan yang berkaitan dengan konflik moral, melalui bacaan, penelitian, penulisan esai, kliping Koran, diskusi, debat, apresiasi film dan lain-lain.
Kedelapan, melatih siswa untuk belajar memecahkan konflik yang muncul secara adil dan damai tanpa kekerasan sehingga para siswa memperoleh keterampilan moral esensial ketika harus menghadapi persoalan serupa di dalam hidup mereka. Keterampilan menjadi mediator, penengah, dan pemecah konflik semakin mendesak untuk dilatihkan dalam diri siswa mengingat bangsa Indonesia banyak tercabik-cabik oleh berbagai macam konflik yang berlatar belakang etnis, politis, bahkan keagamaan. Maraknya tawuran pelajar, misalnya, membutuhkan niat baik bagi setiap pihak, bukan hanya individu sebagai pribadi, atau antarsiswa yang berkelahi, melainkan mesti melibatkan dialog kelembagaan, didukung unsur-unsur masyarakat, dan pihak yang berwenang sehingga terjadi dialog dan pemecahan persoalan tawuran pelajar secara damai dan adil.
Kedelapan elemen di atas merupakan hal-hal penting yang dapat diimplementasikan para guru sebagai manajer kelas demi terwujudnya efektifitas manajemen di dalam kelas
Sementara itu, Taruna (2002) mengemukakan bahwa Perbaikan manajemen kelas adalah tanggung jawab guru, dan hal itu dapat dilakukan oleh setiap guru jika: (1) guru mengerti benar tujuan dan fungsi belajar, (2) mengenali murid secara individu, bukan sebagai massa, (3) pembelajaran diselenggarakan baik secara klasikal, kelompok, bahkan individual, (4) kelas dikembangkan untuk berpikir kritis (bukan hanya menghapal) dan selalu dirangsang untuk memecahkan masalah, (5) bersama murid menciptakan kelas sebagai ruangan yang membuat kerasan bersama, (6) lingkungan sekitar kelas/sekolah dimanfaatkan juga untuk kegiatan pembelajaran, (7) guru memberi umpan balik yang baik dan memadai untuk setiap pekerjaan murid agar murid-murid selain terdorong kegiatan belajarnya, dan (8) guru benar-benar merangsang aktivitas murid untuk aktif dalam hal berfikir, bukannya sekadar aktif asal banyak kesibukan.
5. Pemikiran Baru dalam Manajemen Kelas
Kinerja manajemen kelas yang efektif, antara lain tercermin dalam bentuk keberhasilan guru dalam mengkreasi lingkungan belajar secara positif (creative positive learning environment) dan memberdayakan siswa (empowering students) untuk memahami dan menjadi efektif dalam melibatkan diri pada proses pengelolaan kelas dan proses pembelajaran.
Dalam rangka menciptakan lingkungan belajar yang positif dan penguatan siswa, dapat dikembangkan system reward and punishment yang edukatif yang bermartabat dan tidak “membunuh” motivasi siswa. Justru perlu dikembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) sehingga siswa mengalami pembelajaran aktif yang menyenangkan serta ditumbuhkan motivasinya. (Haris Mudjiman, 2007:107-127).
Adalah realitas bahwa masalah serius yang terjadi di sekolah-sekolah saat ini, besar atau kecil, disebabkan oleh masalah-masalah manajemen, khususnya manajemen kelas yang belum mampu merespon tuntutan untuk menjadikan manusia secara selayaknya (human being) atau ingin menciptakan proses pembelajaran pada tingkat kinerja yang diinginkan. Sosok ideal ini memang tidak menjadi tanggung jawab guru sepenuhnya, melainkan juga tanggung jawab kepala sekolah, special educator, pelatih, ahli psikologi, bahkan peneliti. Keberadaan sekolah sebagai institusi public service dituntut memberikan layanan prima kepada peserta didik tidak sebatas yang berdimensi kuantitatif tetapi lebih kepada kualitatif sehingga potensi peserta didik dapat berkembang secara optimal. (Stephen J Knezevich, 1984).
Ringkasnya, esensi dan ekstensi manajemen kelas dalam memfasilitasi proses pembelajaran yang kondusif tidak lagi didudukkan pada posisi yang sekunder, melainkan menjadi pemeran yang utama. Pemikiran ini menuntut adanya cara dan metode baru bagi guru untuk mengelola kelasnya secara efektif dan inovatif. Hasil penelitian yang kontemporer mengenai manajemen kelas merekomendasikan beberapa metode inovatif atau orientasi baru yang menjadi fokus kerja manajemen kelas. Beberapa di antaranya meliputi berikut ini:
a. Perhatian yang lebih besar pada aspek pendidikan multikultural dan isu-isu jender.
b. Pengembangan fokus ke arah pencerahan kebutuhan siswa, gaya belajar, kultur pembelajaran, dan metode pengelolaan perilaku yang digunakan di kelas.
c. Pengembangan ke arah keterlibatan siswa secara aktif dalam memahami dan mengambil tanggung jawab bagi lingkungan belajarnya dan untuk mendemonstrasikan perilaku positif.
d. Pengembangan studi kasus mengenai bagaimana menciptakan sosok manajemen kelas yang efektif atau bagaimana menimba pengalaman dari kinerja manajemen kelas yang baik yang pernah ditampilkan.
e. Perluasan rencana-rencana baru dalam kerangka membangun manajemen kelas yang efektif, serta penentuan strategi proses dan metode yang akurat untuk mengimplementasikannya.
f. Gagasan-gagasan baru mengenai cara guru bekerja untuk memecahkan masalah-masalah perilaku khusus yang dialami oleh siswa dalam keseluruhan mainstreams kehidupan untuk dimanipulasi menjadi potensi kondusif di dalam dan di lingkungan kelas. (Danim, 2002: 189-190)

C. PENUTUP
1. Simpulan
Dari paparan konseptual dan analisis mengenai manajemen kelas dan guru efektif, dapat diambil simpulan sebagai berikut:
a. Secara definitif manajemen kelas telah mengalami pergeseran makna yaitu berfokus pada terselenggaranya proses pembelajaran yang efektif dan efisien yang diukur menurut nilai-nilai pendidikan yang dianut. Manajemen kelas tidak lagi dipahami sebagai usaha guru untuk mempertahankan disiplin atau ketertiban kelas, sebagaimana konsep tradisional yang mengarah kepada pola otoriter di mana guru menjadi aktor sentral dari semua interaksi pembelajaran. Konsep modern memandang manajemen kelas sebagai proses mengorganisasikan segala sumber daya kelas bagi terciptanya pembelajaran yang efektif dan efisien. Sumber daya itu diorganisasikan untuk memecahkan aneka masalah yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran sekaligus membangun situasi kelas yang kondusif secara terus-menerus. Tugas guru adalah menciptakan, memperbaiki, dan memelihara situasi kelas yang cerdas. Situasi yang cerdas itulah yang mendukung peserta didik untuk mengukur, mengembangkan, dan memelihara stabilitas kemampuan, bakat, minat, dan energi yang dimilikinya dalam rangka menjalankan tugas-tugas pendidikan dan pembelajaran.
b. Manajemen kelas yang efektif di samping ditentukan oleh penguasaan subject matter dan metodologi pembelajaran, juga ditopang oleh pemahaman personal/psikologis siswa, hubungan positif antara guru-siswa dan antar siswa, implementasi metodologi pengajaran yang fasilitatif terhadap kebutuhan akademik siswa, pengelolaan dinamika kelompok dan penggunaan metode konseling untuk membantu siswa.
c. Kinerja manajemen kelas yang efektif, antara lain tercermin dalam bentuk keberhasilan guru dalam mengkreasi lingkungan belajar secara positif (creative positive learning environment) dan memberdayakan siswa (empowering students) untuk memahami dan menjadi efektif dalam melibatkan diri pada proses pengelolaan kelas dan proses pembelajaran.
d. Keterampilan manajemen kelas (classroom management skills) menduduki posisi yang sangat urgen dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran yang diukur dari efektifitas proses belajar siswa atau peringkat yang dicapainya. Dengan demikian keterampilan manajemen kelas sangat krusial dan fundamental dalam mendukung proses pembelajaran.

2. Penutup
Demikian makalah sederhana ini kami susun, tentunya banyak terdapat kekurangan dan kelemahan. Untuk itu saran, masukan dan kritik konstruktif kami sangat harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.








BIBLIOGRAFI

Danim, Sudarwan., 2002. Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Fattah, Nanang., 2000. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Hornby, A.S., 1996.,Oxford Advanced Learner Dictionary. Great Britain: Oxford University Press.
http://gurukreatif.wordpress.com/
Johnson, Lois V., Mary A. Bany.,1970. Classroom Management, Pengelolaan kelas. Terj. Made Pidarta. Surabaya: Usaha Nasional.
Knezevich, Stephen J., 1984. Administration of Public Education. New York: Harper & Row, Pblishers
Korina, 2008.,Tugas dan Peran Guru dalam Manajemen Sekolah, dalam http://manajemensekolah.teknodik.net/?p=823
Mujiman, Haris., 2007. Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Popham, W. James, Eva L. Baker.,2001. Establising Instructional Goals and Systematic Instruction. Teknik Mengajar secara Sistematis. Terj. Amirul Hadi dkk.,Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sukarna, Atep Hasan., 2009. Efektifitas manajemen Kelas, dalam. http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/8493/efektifitas-manajemen-kelas
Taruna, JC Tukiman, 2002. Perbaikan Manajemen Kelas Susul Kenaikan Tunjangan Fungsional, diakses dari internet.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar