Sabtu, 26 Desember 2009

Melacak Jejak Islamisasi di Pekalongan Abad XV-XVII

I. PENDAHULUAN
Menyebut atau mendengar kata Pekalongan,bagi kebanyakan orang baik warga Pekalongan maupun luar Pekalongan, terbayang sebuah komunitas pantai utara (pantura) atau pesisir utara Jawa Tengah yang agamis (santri) serta mempunyai seni tradisi batik yang terkenal. Masyarakat pesisir ini memiliki sifat-sifat umum yang terbuka, lugas dan egaliter. Menurut Mudjahirin Thohir, hal ini ada hubungannya dengan (1) kondisi kawasan tempat tinggal, (2) posisi daerah-daerah pesisir secara geopolitik yang berjauhan dengan pusat kerajaan Jawa (Mataram), dan (3) di dalam sejarahnya, memiliki hubungan yang intensif dengan orang-orang dari Asia Timur Tengah dalam hubungannya dengan hubungan dagang dan penyiaran Islam. Faktor-faktor tersebut, berpengaruh kepada sistem pengetahuan dan sistem keyakinan yang dijadikan acuan pijakan tindakan pada umumnya masyarakat Jawa Pesisir Utara yaitu bernafaskan keislaman.
Kuatnya nuansa santri yang religius dalam kehidupan masyarakat Pekalongan merupakan satu bukti keberhasilan islamisasi. Hal ini tentunya dapat dirunut jauh ke belakang dari masa awal penyebaran agama Islam itu sendiri. Pekalongan sebagai daerah pesisir, sebagaimana daerah pesisir utara Jawa lainnya, merupakan sasaran dakwah yang awal dibandingkan daerah pedalaman, sehingga sangat wajar mengalami perkembangan yang lebih cepat. selain itu, banyak terdapat situs makam auliya’ yang tersebar dari dataran rendah di utara sampai daerah dataran yang lebih tinggi di daerah selatan. Bukti ini mendukung pandangan umum yang berlaku bahwa Islam datang dan menyebar di Jawa berkat jasa para wali, lebih khusus lagi para walisongo.
Melacak jejak islamisasi di Pekalongan adalah sebuah kajian yang sangat menarik. Namun sejauh penelusuran penulis belum ada penelitian yang secara khusus membahasnya. Menjelaskan sejarah sosial sebuah kota kecil dengan segala dinamikanya bukanlah pekerjaan yang ringan, jika bukan malah sebuah kemustahilan. Referensi dan data tentu saja adalah persoalan berat yang harus dipecahkan untuk bisa memberikan analisis komprehensif tentangnya. Di sisi lain, pilihan metode etnografis juga membawa persoalan sendiri karena keasyikan memberikan “thick description” seringkali melenakan keperluan untuk berjaga dan memberikan analisis kritis terhadap objek pengamatan.
Studi ini adalah sebuah ikhtiar untuk memberikan informasi tentang bagaimana islamisasi berlangsung di Pekalongan.
II. MELACAK JEJAK ISLAMISASI DI PEKALONGAN
A. Sekilas Tentang Sejarah Pekalongan
Berdasarkan hasil penelusuran dan pengidentifikasian data-data historis/sejarah Kabupaten Pekalongan sebagaimana tertuang dalam Buku Mengenal Kabupaten Pekalongan, sejarah berdirinya Kabupaten Pekalongan dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut :
1. Masa Prasejarah
Data permukiman awal dari masa prasejarah dan awal masa sejarah kuno sebagaimana ditunjukan oleh adanya peninggalan megalitik dan lingga yoni di beberapa tempat di daerah Kabupaten Pekalongan di bagian selatan menunjukan bahwa pemukiman penduduk telah berlangsung lama dan telah mengenal sistem kemasyarakatan dan keagamaan (Hindu Syiwa). Sistem kemasyarakatan yang bagaimana tidak dapat diketahui pasti karena terbatasnya sumber informasi.
Beberapa benda peninggalan sejarah yang berada di daerah Kabupaten Pekalongan berupa Yoni dan Lingga dan bukti peninggalan yang lain seperti:
1. Lingga/ Yoni yang berada di Desa Telagapakis Kecamatan Petungkriyono.
2. Yoni yang berada di Dukuh Gondang Desa Telogohendro wilayah Kecamatan Petungkriyono.
3. Lingga yang berada di Dukuh Mudal Desa Yosorejo wilayah Kecamatan Petungkriyono
4. Lingga/ Yoni yang berada di Dukuh Parakandawa Desa Sidomulyo Kecamatan Lebakbarang.
5. Yoni yang berada di Dukuh Pajomblangan Kecamatan Kedungwuni
6. Yoni yang berada di Dukuh Kaum Ds. Rogoselo Kecamatan Doro.
7. Yoni yang berada di Desa Batursari Kecamatan Talun.
8. Archa Ghanesha yang berada di Desa Kepatihan Kecamatan Wiradesa.
9. Archa Ganesha yang berada di Desa Telogopakis Kecamatan Petungkriyono
10. Batu lumpang yang berada di Desa Depok Kecamatan Lebakbarang.
11. Batu Lumpang yang berada di Dukuh Kambangan di Desa Telogopakis Kecamatan Petungkriyono dan sebagainya.
Data pemukiman pada periode awal Abad Masehi sampai Abad XIV dan XV sangat langka dan terbatas, sehingga sulit dipastikan pertumbuhan dan perkembangan komunitas di wilayah Pekalongan pada masa pengaruh kebudayaan Jawa Hindu berkembang di Jawa. Hal ini terjadi karena sampai masa kini belum ditemukan prasasti peninggalan tertulis yang mampu mengungkapkan kehidupan pada masa itu. Banyak ditemukan toponim, beserta tradisi lisan, berupa legenda mitos, atau cerita rakyat yang berkaitan dengan toponim, akan tetapi sulit untuk memastikan kebenaran data legenda atau cerita rakyat tersebut.
Seperti yang dikemukakan oleh Schricke, Negara Kertagama, karya tulis penting pada masa Majapahit, sama sekali tidak menyebut nama-nama daerah di Pantai Utara Jawa sebelah barat Lasem yang mencakup daerah Tegal, Pekalongan dan Semarang, yang pada masa itu diduga masih jarang dihuni penduduk. Sementara daerah lain seperti Demak, Jepara , Kudus dan Pati telah berkembang menjadi daerah penting.
2. Masa Kerajaan Demak
Data sejarah pada periode abad ke 15 dan abad ke 16, diperoleh melalui sumber-sumber tertulis di samping sumber-sumber peninggalan bangunan makam kuno, kuburan dan bangunan lain dari masa perkembangan Islam di Jawa.Pada masa abad ke 16 diduga wilayah Pekalongan telah menjadi daerah yang dilewati oleh hubungan komunikasi dari dua kerajaan Islam Demak dan Cirebon, dan pada masa kemudian menjadi wilayah pengaruh kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17.

3. Masa Mataram Islam

Pada abad ke 18 wilayah Pekalongan menjadi pengaruh VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), Persekutuan dagang di India Timur – Belanda, terutama sejak tahun 1743, yaitu setelah VOC menerima imbalan jasa bantuan yang diberikan VOC kepada Mataram.
Sejak 1800-an sampai 1942 Wilayah Pekalongan secara langsung menjadi wilayah administratif wilayah Pemerintahan Hindia Belanda, atau disebut wilayah Gubernemen. Sementara itu setelah lahirnya wilayah Republik Indonesia pada 1945 Wilayah Pekalongan tidak beda dengan wilayah lainnya menjadi Wilayah administrasi Pemerintahan Republik Indonesia.
Pada masa Pemerintahan Mataram Islam di bawah kekuasaan Sultan Agung abad ke-17, keberadaan Kabupaten Pekalongan secara administratif merupakan Bagian dari wilayah kesatuan kerajaan Mataram Islam.

Kerajaan Mataram di bawah tampuk pemerintahan Sultan Agung mencapai kejayaannya. Wilayahnya meliputi wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Adapun Jakarta belum berhasil ditaklukkan karena dikuasai oleh Belanda di bawah Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen mulai tahun 1619. Keberhasilan tersebut ditunjang Doktrin Keagungbinataraan, yaitu kekuasaan Raja Mataram harus merupakan ketunggalan, utuh dan bulat. Artinya kekuasaan tersebut tidak tersaingi, tidak terkotak-kotak atau terbagi bagi dan merupakan keseluruhan (tidak hanya bidang-bidang tertentu).
Pada bulan Maulud Nabi Muhammad SAW. selalu diadakan Gerebeg Maulud, yaitu peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw. yang biasa jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal, sekaligus diadakan acara “Paseban” (berkumpulnya para Bupati dan Tumenggung serta para pejabat lainnya untuk melaporkan situasi/keadaan di daerah masing-masing dan penyerahan upeti).
Pada acara tersebut juga dimanfaatkan oleh Sultan Agung untuk pengangkatan bupati-bupati baru dan pejabat baru lainnya. Menurut pandangan tim, keberadaan Sultan Agung dalam memimpin kerajaan Mataram terlebih pada saat perlawanan terhadap penjajah Belanda sudah tidak diragukan lagi keberadaannya sebagai Raja yang Gung Binatoro sehingga tepat apabila sekarang diangkat sebagai Pahlawan Nasional.
Perlawanan Mataram terhadap penjajah Belanda mencapai puncak disaat penyerangan ke Batavia pada tahun 1628, dimana Pangeran Manduraredja dan Bahureksa ditunjuk sebagai Panglima perangnya. Secara geografis Kabupaten Pekalongan terletak pada jalur pantura dan perdagangan laut yang cukup setrategis, sehingga pada saat penyerangan ke Batavia Kabupaten Pekalongan sebagai kantong/ lumbung perbekalan. Strategi ini juga digunakan Sultan Agung untuk mengumpulkan kekuatan-kekuatan di daerah.
Dari bukti inilah menunjukan bahwa Kabupaten Pekalongan termasuk daerah yang dipersiapkan dalam rangka penyerangan ke Batavia. Sehingga menurut pandangan tim, dijadikan alternatif dan bukti bahwa secara administratif Kabupaten Pekalongan merupakan bagian dari kesatuan Kerajaan Mataram.
Terlebih lagi dengan diangkatnya Pangeran Manduraredja sebagai Bupati Pekalongan yang mempunyai kekuasaan tertinggi di Kabupaten Pekalongan dan bertanggung jawab sebagai penyelenggara pemerintahan, serta secara hirarki wajib melaporkan segala sesuatunya kepada raja termasuk penyerahan upetinya.

4. Pekalongan Mulai Dikenal
Banyak sumber mengatakan bahwa Pekalongan mulai dikenal setelah Bahurekso bersama anak buahnya berhasil membuka Hutan Gambiran/Gambaran, atau dikenal pula Muara Gambaran. Hal ini terjadi setelah Bahurekso gagal didalam penyerangan ke Batavia, bersama anak buahnya kembali ke Pantai Utara Jawa Tengah, namun secara sembunyi-sembunyi, sebab kalau diketahui oleh Pemerintah Sultan Agung pasti ditangkap dan dihukum mati. Sehingga terus melakukan yang disebut TAPA-NGALONG. Dari sinilah muncul prediksi-prediksi berkaitan dengan istilah PEKALONGAN.Menurut penuturan R. Basuki (Putra Almarhum R. Soenarjo keturunan Bupati Mandurorejo) ; nama Pekalongan berasal dari istilah setempat HALONG – ALONG yang artinya hasil. Jadi Pekalongan disebut juga dengan nama PENGANGSALAN yang artinya pembawa keberuntungan. Sehingga prediksi Topo Ngalong itu hanya gambaran/sanepo yang mempunyai maksud siang hari sembunyi, malam hari keluar untuk mencari nafkah.
Di dalam babad Sultan Agung yang merupakan sumber yang dapat dipercaya istilah pengangsalan nampaknya juga muncul. :
”Gegaman wus kumpul dadi siji, samya dandan samya numpak palwa, gya ancal mring samudrane ; lampahe lumintu, ing Tirboyo lawan semawis ; ing Lepentangi, Kendal, Batang, Tegal, Sampun, Barebes lan Pengangsalan. Wong pesisir sadoyo tan ono kari, ing Carbon nggertata”

(senjata-senjata telah berkumpul jadi satu. Setelah semuanya siap, para prajurit diberangkatkan berlayar. Pelayarannya tiada henti-hentinya melewati Tirbaya, Semarang, Kaliwungu, Kendal, Batang, Tegal, Brebes dan Pengangsalan. Semua orang pesisir tidak ada yang ketinggalan (mereka berangkat menyiapkan diri di Cirebon).

Sehingga dari beberapa uraian tersebut, prediksi Topo Ngalong hanya gambaran atau sanepo yang mempunyai maksud, pada siang hari sembunyi, dan hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan/nafkah.
5. Masa Belanda
Masa-masa awal perkembangan Pekalongan tidak banyak disebut dan sumber-sumber asing baik Portugis maupun Belanda , seperti dalam Reis Journalen, Suma Oriental (Tome Pires, 1994), Scheep togt van Tristanto d’acunha (Pieter Van Der Aa, 1706) The Voyager of John Huygen van Linschouten to the east Indies ( A.C Burnell dan P.A Tiele, 1884), dan catatan perjalanan lainnya.
Sumber -sumber tersebut menyebutkan nama kota-kota di pantai Utara Jawa pada Abad XVI seperti Cirebon, Tegal, Kendal, Demak, Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik dan Surabaya, akan tetapi tidak menyebutkan Pekalongan.
Sementara itu nama Pekalongan dan data historisnya dapat ditelusuri dalam Babad Tanah Jawa, Babad Mataram, Serat Kandhaning Ringgit Purwo, Serat Pustaka Raja Purwo, Babad Sultan Agung , Dagh Register (1623 – 1799) , Opkomst Van Het Nederlandsch gezag in Oost Indie ( J.K.J de Jonge & M.L Van Deventer , eds; 1862 – 1909, 13 jilid ), laporan VOC lainnya, laporan Pemerintah Hindia Belanda, Buku-buku dan Publikasi lainnya seperti regering Almanak van Nederlandsch Indie (1820-1850) dan Oud end Nieuw Oost Indie (F. Valentijn) dan Sumber lainnya.
Pada masa ini administrasi pemerintahan secara keseluruhan berdasarkan keputusan dari pemerintah Hindia Belanda, misalnya bentuk pemerintahan Kabupaten yang disebut Regent, adalah bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Bupati.
Nama nama Regent/Bupati Kabupaten Pekalongan
Tersebut nama-nama Regent/Bupati Pekalongan :
Tan Kwee Djan (1741)
Raden Toemenggoeng Wirio Adi Negoro (1823).
Raden Adipati Wirijo Adi Negoro (1825)
Membangun Masjid Jami (besar), dimulai pada Hari Selasa Kliwon tanggal 20 Desember 1825.Pada tahun 1933 dilakukan pemugaran dengan mendirikan menara.
Raden Toemenggoeng Arjo Wirjo Di Negoro
Raden Toemenggoeng Ario Werio Dhi Di Negoro (1856)
Raden Toemenggoeng Ario Atmodjo Negoro (20 Januari (1872)
Raden Toemenggoeng Ario Koesoemo Di Negoro
Raden Adipati Noto Dirdjo (1879 – 1920)
Pada tanggal 31 Maret 1879 sampai 1 Maret 1880 membangun Gedung Kabupaten Pekalongan, yang ditandai pada lempengan batu marmer putih yang dipasang di tembok gedung. Menurut sumber lisan juga disebutkan bahwa pohon-pohon beringin di Alun-alun Pekalongan tiap-tiap pohonnya diberi nama Kawedanan yang mengirim bibitnya.
Raden Toemenggoeng Ario Soerjo (10 Maret 1924)
Adapun Wilayahnya disebut Regentscap. Sedang untuk kawedanan disebut Gewest.
Gewest di Jawa Tengah waktu itu meliputi :
1) Semarang Gewest, yang meliputi Regentschap (Kabupaten) Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Djepara dan Grobogan.
2) Rembang Gewest, yang meliputi Regentschap Rembang, Blora, Tuban dan Bodjonegoro.
3) Banyumas Gewest, yang meliputi Regentschap Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Bandjarnegara dan Purbolinggo.
4) Kedu Gewest, yang meliputi Regentschap Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworedjo, Kutoardjo, Kebumen dan Karanganjar.
5) Pekalongan Gewest, yang meliputi Regentschap Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Batang.

B. Islamisasi di Jawa
Membahas islamisasi di Pekalongan tidak terlepas dari kajian penyebaran Islam di Jawa pada umumnya. Islamisasi di Jawa ini penting untuk lebih dulu diketengahkan guna memberikan perspektif yang lebih jelas dan luas mengenai keberadaan dan penyebaran agama Islam di Jawa. Hal ini mengingat ada kontinuitas dan hubungan islamisasi di Jawa pada masa awal dengan penyebarannya di daerah-daerah Jawa lainnya, termasuk di Pekalongan.
Sejak awal Masehi kawasan Asia Tenggara dan Nusantara telah berfungsi sebagai jalur lintas perdagangan di sekitar kawasan Asia yang meliputi Asia timur dan Asia Selatan. Menurut Hasan Muarif Ambary, sejak awal Masehi telah terbuka kontak sosial budaya antara daerah pesisir utara Jawa dan India. Hubungan perdagangan itu semakin meningkat seiring dengan kehidupan masyarakat yang ramai di pesisir utara Jawa pada abad ke-5 Masehi.
Kontak perdagangan antar bangsa ini telah memunculkan kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat dan kemudian beralih ke pelabuhan Kerajaan Hindu Kalingga di Jepara Jawa Tengah sekitar abad ke-7 Masehi.
Para sejarahwan mengakui bahwa sejarah kedatangan Islam di Indonesia masih belum jelas. Sejarah penyebaran Islam masih sulit diungkapkan untuk mencapai kesimpulan yang tegas karena terbentur kurangnya informasi yang dapat dipercaya. Rumusan mengenai kapan, dari mana, oleh siapa dan bagaimana Islam disebarkan masih belum ada kesepakatan. Ada yang bertitik tolak dari datangnya seorang atau beberapa orang asing muslim. Ada yang bertitik tolak dari telah adanya seorang atau beberapa orang pribumi yang telah memeluk Islam. Ada lagi yang lebih menekankan pada telah melembaganya agama Islam dalam masyarakat suatu daerah. Rumusan lain bersandar pada teori kehadiran Islam dihubungkan dengan kontak perdagangan antara bangsa Indonesia dengan para pedagang Islam.
A. Hasymi misalnya menyatakan bahwa Islam telah menjalin hubungan dengan dagang dengan Indonesia sejak abad pertama Hijriyah atau sekitar abad ke-7 M. pendapat ini ditolak oleh Hasan Mu’arif Ambary karena tidak didukung bukti arkeologis dan epigrafis yang kuat. mungkin mereka telah datang di Indonesia sejak abad ke-7 Masehi, namun kedatangan mereka belum berperan dalam penyebaran Islam.
Di Jawa, sejak abad ke-7 sampai ke-10 M, tidak pernah disebut sebagai persinggahan pedagang muslim asing. Jejak persinggahan mereka baru tampak sekitar abad ke-11 M, dengan bukti nisan makam di desa Leran, 12 km sebelah barat Gresik, dari seorang muslimah Fatimah binti Maimun ditandai dengan angka 7 Rajab 475 H/1082 M. Namun nisan makam itu belum bisa dijadikan bukti adanya penyebaran Islam di Jawa. Temuan ini baru merupakan informasi kedatangan pedagang muslim asing yang melakukan kegiatan Islamisasi awal dengan cara menikahi penduduk setempat serta tinggal sementara waktu di pelabuhan pesisir utara Jawa Timur.
Adanya persinggahan orang muslim asing di pelabuhan Gresik untuk melakukan perdagangan kemudian berdiam selama beberapa waktu sambil menunggu angin untuk melanjutkan perjalanan memunculkan perkampungan komunitas muslim di pelabuhan tersebut. Di situ mereka menjalankan ajaran Islam, mendirikan masjid. Mereka menikahi perempuan setempat sehingga mereka dan beberapa keluarganya memeluk Islam dan memberikan keturunan muslim. Hal ini kemudian menciptakan komunitas muslim yang lebih luas.
Kegiatan Penyebaran Islam awal di kawasan pesisir utara Jawa yang bisa diketahui telah dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim (w. 12 Rabi’ul Awwal 822 H/1419 M). Ulama’ berikutnya Raden Rahmat berhasil menyebarkan di Ampel Surabaya. Ia dianggap sebagai pemimpin Wali Sanga dan memperoleh gelar Sunan Ampel.
Ulama penyebar agama Islam berikutnya berasal dari Jeddah yaitu Wali Lanang. Ia menikahi putri Bupati Blambangan, Putri Sekardadu dan mendapat seorang anak laki-laki, Raden Paku (l. 1442) atau Maulana Iskhak. Raden Paku kemudian menuntut ilmu kepada Sunan Ampel. Raden paku, ulama yang kemudian sukses dengan perdagangannya membangun kedaton Giri di daerah Sidomukti, Gresik pada tahun 1485 M, sehingga dikenal dengan nama Sunan Giri.
Sunan Giri adalah salah satu ulama yang telah membangun tempat penyebaran keilmuan Islam di pesisir Jawa. . Para penyebar Islam awal di Jawa umumnya bermukim di daerah pesisir. Sebagian besar mereka memiliki posisi dan terlibat langsung dalam masalah kekuasaan dan perdagangan. Bahkan para penguasa mengharuskan dirinya untuk sowan kepada Sunan guna mendapat restu dan pengesahan (legalitas).
Sepeninggal Sunan Giri, penyebaran Islam dilanjutkan oleh Sunan Giri II (Sunan Dalem) tahun 1504-1546. Masa selanjutnya tahun 1546-1548 diteruskan oleh Sunan Giri III (Sunan Seda Ing Margi). Berikutnya penyebaran keilmuan Islam dilanjutkan oleh kakaknya, Sunan Giri IV (Sunan Prapen) dengan masa yang paling panjang, antara tahun 1548-1605 M. Sunan Prapen adalah tokoh ulama besar Jawa pada masanya, yang dikenal sebagai Raja-Imam. Sunan Giri mampu menciptakan wilayah masyarakat muslim yang lebih luas dengan warna budaya Islam.
C. Islamisasi di Pekalongan
Sebagaimana disebutkan di muka bahwa meskipun daerah Pekalongan telah berpenghuni sejak zaman prasejarah, namun nama Pekalongan itu sendiri baru muncul pada masa kerajaan Mataram Islam pada masa Sultan Agung. Adapun proses islamisasi dipastikan telah sampai ke daerah yang nantinya menjadi wilayah Pekalongan ini jauh sebelum berdirinya kerajaan Mataram Islam.
Pada abad ke-15 kemungkinan besar proses islamisasi telah ada di Pekalongan. Pada masa Raden Rahmat atau Sunan Ampel (w.1481 M) yang dianggap sebagai pemimpin Wali Sanga, sebagaimana disebutkan dalam Babad Tanah Jawi edisi Meinsma. Sunan Ampel telah sukses melakukan penyebaran Islam setelah mendirikan pesantren di Kembang Kuning. Pondok Pesantren ini menjadi pusat penyebaran Islam yang pertama di Jawa. Di tempat inilah dididik pemuda-pemudi Islam sebagai kader untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh pulau Jawa, antara lain Raden Paku atau Sunan Giri, Raden Patah yang kemudian menjadi Sultan pertama Demak, Raden Makdum Ibrahim, putranya yang terkenal dengan sebutan Sunan Bonang kemudian Syarifuddin yang belakangan dikenal dengan sebutan Sunan Drajat.
Salah seorang murid Sunan Ampel yang makamnya ditemukan di desa Wonobodro Kecamatan Blado Kabupaten Batang bernama Syaikh Zilbani. Namun sejauh ini belum diperoleh informasi mengenai sejarah hidup Syaikh Zilbani kecuali hanya informasi bahwa ia sebagai murid Sunan Ampel. Dimungkinkan sekali wilayah dakwah beliau tidak hanya terbatas di Wonobodro atau Batang saja, namun juga meliputi daerah Pekalongan dan sekitarnya. Mengingat antara Batang dan Pekalongan adalah dua kota dan daerah yang berdekatan. Selain itu, di kompleks pemakaman Wali di Desa Wonobodro terdapat juga makam Maulana Maghribi dan Ki Ageng Pekalongan. Keberadaan makam murid Sunan Ampel di daerah ini mengindikasikan bahwa pada abad ke-15 penyebaran Islam telah sampai di daerah Pekalongan.
Pada periode perkembangan berikutnya perkembangan Islam melaju dengan pesat bersamaan munculnya kerajaan Islam Demak (1472-1546 M). Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam. Secara berangsur-angsur islamisasi menunjukkan keberhasilannya di daerah pesisir utara Jawa Tengah pada abad ke-15. Dengan perkembangan tersebut, para wali menganggap tepat saatnya untuk membangun Masjid Agung di ibukota kerajaan Bintoro Demak sebagai sarana penyebaran keilmuan Islam yang lebih efektif. Masjid Agung Demak ini dibangun sekitar tahun 1479 M atau 884 H. Masjid yang didirikan oleh para wali ini memiliki peran sangat penting dalam penyebaran keagamaan Islam di Jawa Tengah. Masjid Demak ini mengalami renovasi pertama oleh putra Raden Patah yaitu Raden Trenggana (berkuasa 1504 M-1546 M) pada tahun 1506 M.
Peristiwa pembangunan Masjid Agung Demak tersebut ada hubungannya dengan pembangunan masjid tertua di kota Pekalongan yakni Masjid Aulia yang berada di lokasi Pemakaman Umum Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Barat. Bangunan Masjid ini didirikan pada tahun 1135 Hijriah, yang berarti usia masjid tersebut sudah mencapai 295 tahun. Diduga dari masjid inilah penyebaran agama Islam dilakukan di kawasan Pantura. Menurut Kiai Dananir, salah satu pengelola masjid, bangunan masjid yang tergolong tua di Kota Pekalongan itu, penuh dengan nilai-nilai sejarah penyebaran Islam di daerah pesisir pulau Jawa. Seperti terlihat pada kayu-kayu untuk bangunan masjid Aulia yang berasal dari sisa pembangunan Masjid Demak masa Walisongo. Kemudian mimbar untuk khutbah berornamen ukir-ukiran lengkap dengan trap tangga layaknya masjid-masjid tua, ternyata mimbar itu merupakan hadiah dari kerajaan Demak Bintoro masa Walisongo. Bahkan terlihat adanya prasasti di atasnya bertuliskan tahun 1208 Hijriyah.
Ditambahkan , perjalanan sejarah pembangunan Masjid Aulia diawali dari siar agama Islam dari tokoh ulama Bintara Demak melalui pesisir Pantura, masing-masing Kyai Maksum, Kyai Sulaiman, Kyai Lukman dan Nyai Kudung. Keempat ulama itu sedianya membangun masjid di sekitar Alas (hutan) Roban (Plelen-Batang). Bahkan pondasinya dan tempat wudlu sudah dibuat. Namun belakangan mereka memperoleh petunjuk jika daerah setempat nantinya tidak ada penghuninya. Sehingga pendirian masjid tidak diteruskan (situsnya masih ada di seputar Alas Roban Batang). Merekapun akhirnya menemukan tempat di Sapuro.
Di sekitar lokasi tersebut terdapat makam habib atau ulama-ulama besar maupun tokoh kerajaan. Di antaranya , Habib Ahmad Alatas, Pangeran Adipati Aryo Notodirjo yang wafat tahun 1899, Bupati Pasuruan R. Tumenggung Amongnegoro yang wafat tahun 1666 dan beberapa sesepuh lainnya.
Keberadaan Masjid Auliya’ tidak dipungkiri merupakan bukti sejarah yang penting bagi masyarakat Pekalongan. Akan tetapi kalau kita cermati, terutama tahun pendiriannya yakni 1135 H atau sekitar dengan 1723 M maka akan sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan pendirian masjid Agung Demak 1479 M maupun masa renovasi pertama kali pada masa Sultan Trenggana pada 1506 M. Oleh karena itu bisa jadi apa yang disampaikan perlu pengkajian lebih lanjut.
Masih berkaitan dengan Masjid Agung Demak sebagai pusat penyiaran Islam di pesisir Utara Jawa Tengah. Di kabupaten Pekalongan, tepatnya di desa Rogoselo Kecamatan Doro terdapat petilasan/cagar alam Arca Baron Sekeber dan Makam Ki Gede Atas Angin atau Pangeran Atas Angin. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat Baron Sekeber adalah orang eropa yang sakti yang berkelana untuk menjajal kesaktiannya. Konon ia hanya dapat terkalahkan oleh Ki Gede Atas Angin seorang wali sakti dan jasadnya menjelma menjadi arca batu.
Sebagaimana disebut De Graaf dan Pigeaud, mengutip hikayat Hasanuddin, setelah Masjid Agung Demak berdiri maka ditunjuklah Sunan Bonang, Putra Raden Rahmat untuk menjadi imam namun kemudian beliau meletakkan jabatan itu untuk pergi mula-mula ke Karang Kemuning kemudian ke Bonang. Pengganti Sunan Bonang adalah suami cucu Nyai Gede Pancuran yang diberi nama Makdum Sampang. Nyai Gede Pancuran adalah putri Raden Rahmat yang konon menikah dengan Pangeran Karang Kemuning, seorang alim ulama dari “Atas Angin” dari Barat. De Graaf dan Pigeaud memperkirakan ia adalah orang Melayu atau orang yang berasal dari India atau Arab yang bernama Ibrahim.
Kesamaan nama sebagaimana disebut De Graaf dengan legenda yang hidup di Masyarakat Rogoselo tentang Ki Gede Atas Angin, ada kemungkinan merujuk kepada tokoh yang sama. Kalau hal ini benar maka Ki Gede Atas Angin ini adalah menantu Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Seorang ulama yang turut menyebarkan agama Islam di daerah Pekalongan. Namun bila dikaji dari sisi Baron Sekeber yang kabarnya adalah orang Belanda atau Eropa. Dimana kedatangan orang Eropa ke Jawa adalah jauh sesudah masa Raden Rahmat. Maka argumentasi Ki Ageng Atas Angin adalah orang yang sama agaknya terpatahkan dengan sendirinya.
Selain makam Ki Gede Atas Angin di Desa Rogoselo, di sebelah selatan masjid kauman Rogoselo juga terdapat makam wali yang dipercaya sebagai penyebar agama Islam. Beliau adalah Ki Ageng Rogoselo atau menurut Habib Luthfi bin Yahya nama aslinya adalah Syaikh Abdullah. Atas saran dari Habib Luthfi nama beliau diabadikan menjadi Nama masjid di kompleks Batalyon 407 Kompi C Senapan di Wonopringgo. Belum diperoleh informasi yang jelas mengenai asal-usul dan biografi syaikh Abdullah ini.
Dari sebutan para penyebar Islam di Pekalongan di atas di mana menggunakan sebutan Ki Ageng, Ki Gede atau Ki Agung ada kemungkinan bahwa mereka itu termasuk bagian dari Bhayangkari Islah (pelopor kebaikan), yaitu para penyebar keagamaan yang diorganisir oleh para wali dengan tugas melaksanakan penyebaran agama sejak masa Sunan Ampel.
Jejak penyebaran Islam di Pekalongan dapat ditelusuri juga dari keberadaan petilasan yang diyakini warga sekitar sebagai petilasan Syaikh Siti Jenar yang terdapat di desa Lemah Abang Kecamatan Doro. Syaikh Siti Jenar disebutkan pernah berguru kepada Sunan Giri, namun pengaruh tarekat yang pernah dipelajarinya di Gujarat lebih kuat pada dirinya. Syaikh Siti Jenar adalah pengikut tarekat Akmaliyah. Tarekat ini berhulu kepada Abu Yazid al-Bustami (w. tahun 874 M) dan al-Hallaj (abad 9 M) yang mengajarkan pantheisme. Dengan demikian di Pekalongan pada abad ke-15 dan 16 penyebaran Islam yang bercorak tasawuf heterodoks telah berlangsung dan ini kebanyakan berlangsung di daerah selatan di mana corak kehidupan masyarakatnya agraris yang kehidupannya relatif kurang dinamis.
Dari beberapa paparan di atas, tampaknya Islamisasi di Pekalongan selalu memiliki kaitan dengan dengan sosok Sunan Ampel dan Sunan Giri sebagai pemimpin organisasi Bhayangkari Islah. Bahkan ketika Giri Kedaton sebagai pusat penyebaran Islam ditaklukkan oleh Sultan Agung pada tahun 1635 M, sebagaimana dikisahkan dalam Serat Centhini, anak-anak Sunan Giri, yaitu Pangeran Jayengresmi, Jayengsari, dan Rancangkapti, mengembara (dibuku ditulis escape) meninggalkan Gresik untuk menyelamatkan diri, dengan terus menyebarkan agama Islam. Akan tetapi, perjalanan mereka tidak seiring sejalan. Jayengresmi (kelak menjadi Seh Amongrogo) yang ditemani santrinya Gathak dan Gathuk (Jamal dan Jamil) dari Giri menuju Karang, sedangkan kedua adiknya yang bermaksud mencarinya, dengan ditemani santrinya Buras, dari Giri menuju Pekalongan kemudian ke Sukoyoso (posisinya di sekitar Magelang, Jawa Tengah). Dari kisah ini Pekalongan dianggap sebagai daerah yang cukup penting sebagai tempat untuk menyelamatkan diri sekaligus tempat berdakwah. Saat itu dipastikan daerah Pekalongan sudah banyak komunitas Islamnya sebagai hasil penyebaran Islam pada dua abad sebelumnya.
III. PENUTUP
A. Simpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kami tarik beberapa simpulan sebagai berikut:
1. Agama Islam mulai masuk dan menunjukkan keberadaannya di daerah Pekalongan sekitar abad ke-15, hal ini dibuktikan dengan adanya makam para penyebar Islam di Pekalongan seperti Syaikh Zilbani (Murid Sunan Ampel) yang dimungkinkan merupakan alumnus ponpes Kembang kuning sebagai pusat penyebaran Islam pertama di Jawa.
2. Pada periode berikutnya penyebaran Islam di Pekalongan menjadi lebih intensif setelah berdiri Kerajaan Islam Demak Bintoro. Secara berangsur-angsur Islamisasi menunjukkan keberhasilannya di pesisir utara Jawa Tengah.
3. Di bawah komando Sunan Ampel dan Sunan Giri penyebaran Islam ke berbagai daerah di Jawa dilakukan lewat organisasi Bhayangkari Islah termasuk di Pekalongan yang antara lain dilakukan oleh Ki Ageng Atas Angin, Ki Ageng Rogoselo atau Syaikh Abdullah.
B. Penutup
Demikian kajian sederhana mengenai Proses islamisasi di Pekalongan ini dapat saya hadirkan. Saya menyadari sepenuhnya bahwa kupasan dalam makalah ini masih banyak kekurangannya terutama terbentur minimnya sumber dan informasi yang dapat saya akses yang tentunya membutuhkan penelitian lanjutan yang lebih intens dan mendalam. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik, saran dan masukan demi penyempurnaan isi makalah ini.
Akhirnya saya berharap makalah ini dapat menjadi ikhtiar awal guna mengungkap tabir islamisasi di Pekalongan. Saya juga berharap penelitian awal ini membuka wawasan kita sekaligus memacu kuriusitas akan khasanah sejarah lokal di Pekalongan khususnya.

















DAFTAR PUSTAKA
Ambary, Hasan Muarif, Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998).
Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Melacak Akar-akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1998).
Graaf, H.J. De, TH. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI (Jakarta: Grafiti Press, 2001).
Hasymi, A. Sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia (Bandung: Al Ma’arif, 1993).
http://wikimapia.org/6072234/id/Masid-Aulia-Tertua-Di-Kota-Batik-Pekalongan-berdiri-tahun-1135-H
Ismawati, Continuity and Change Tradisi Pemikiran Islam di Jawa Abad XIX-XX (Jakarta: Balitbang dan Diklat Depag RI, 2006), hal. 41. Mengutip De Graaf dalam J.J. Ras, Babad Tanah Jawi (Dordrecht: Foris Publication, 1987).
Kuntowijoyo, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (Yogyakarta: Salahudin Press, 1985).
Kushartati, Hidup adalah sebuah perjalanan, Resensi atas buku The Centhini The Javanese Journey of Life Story karya Dr. Soewito Santoso, dalam http://community.kompas.com/kokiresensi/buku.
Notosusanto, Nugroho, dkk, Sejarah Nasional Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990).
Rahman, Fazlur, Islam (Bandung: Pustaka, 1994)
Sofwan, Ridin, et. al, Islamisasi di Jawa Walisongo Penyebar Islam di Jawa Menurut Penuturan Babad (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004).
Sunyoto, Agus, Suluk Abdul Jalil, Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar (Yogyakarta: LKiS, 2003).
Suryo, Djoko, dkk., Agama dan Perubahan Sosial (Yogyakarta: LKPSM, 2001).
Thohir, Mudjahirin, Orang Islam Jawa Pesisiran (Semarang: Fasindo Press, 2006).
Tim Penyusun, Mengenal Kabupaten Pekalongan Beribu kota di Kajen (Kajen: Dindik Pemkab Pekalongan, 2004).
Wahyoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan (Jakarta: Gema Insani Press, 1997).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar