Senin, 03 Juni 2013

Membentuk Karakter Melalui Cerita Motivasi

PENDIDIKAN berkarakter pada Kurikulum 2013 begitu ra­mai diperbincangkan. Bahkan pemerintah telah siap dengan kurikulum terbaru berbasis ka­rak­ter Kemahiran Berpikir secara Kreatif dan Kritis (KBKK). Kuri­ku­lum yang didesain dengan tujuan agar siswa mendapat latihan berpikir secara kritis dan kreatif dalam membuat keputusan dan menyelesaikan masalah dengan bijak, dapat mengaplikasikan pe­nge­tahuan, pengalaman dan ke­mahiran berpikir secara lebih praktik, baik di dalam atau di luar se­kolah, dan dapat menghasil­kan ide atau ciptaan yang kreatif dan inovatif.
Pendidikan karakter diperlu­kan mengingat telah terjadi de­gra­dasi moral pada bangsa ini, khususnya generasi penerus bang­sa.
Pertanyaannya, apakah per­ubahan kurikulum ini bisa menja­min terbentuknya karakter anak?

Faktor Guru
Salah satu faktor keberhasil­an kurikulum adalah guru. Ba­nyak guru-guru atau pendidik cer­das di antara kita, namun ha­nya segelintir dari mereka yang bisa membakar semangat siswa­nya untuk belajar. Mereka cerdas, pengetahuannya luas, tapi tidak banyak yang bisa membangun motivasi anak didiknya. Se­bab itulah, banyak siswa hanya bisa menghafal daripada me­ngem­bangkan. Banyak siswa yang tidak mampu mengem­bang­kan imajinasinya.
Salah satu penyebabnya ada­­lah kurangnya retorika guru da­l­am menyampaikan pelajaran. Reto­rika yang menyelipkan un­sur motivasi dalam mata pelajar­an masih jarang digunakan oleh guru.
Kebanyakan guru hanya bisa bercerita tanpa muatan motivasi yang kuat. Banyak guru yang ha­nya mendapatkan bahan ajar da­ri literatur internet atau buku.
Sebenarnya, jika guru mam­pu bercerita dengan baik, sekali­pun menggunakan bahan dari bu­ku cerita, dan mampu membe­ri­kan motivasi, itu akan lebih baik. Namun, tidak banyak guru yang bisa bercerita dengan baik, se­hingga banyak pesan moral da­lam cerita tidak sampai dengan baik.
Saat guru menceritakan pengalamannya sendiri, siswa akan mendapat asupan motivasi dari sumber yang tepercaya. Peng­alaman guru ini menjadi bahan ajar bagi anak didiknya.
Mari jadikan diri kita sebagai so­sok pendidik yang mampu mem­beri motivasi kepada anak didik, melalu cerita inspiratif dari di­ri kita sendiri, bukan hanya cerita bualan kosong, tapi sebuah rea­lita hidup.
Semua kalimat motivasi yang berasal dari pengalaman hidup akan lebih bermakna dan mem­be­kas di lubuk hati setiap orang yang mendengarnya.
Menanamkan karakter pada anak tidak akan sulit, karena me­reka melihat sosok kita, seperti apa yang mereka lihat.  Dengan begitu, siswa dapat meningkatkan aspek kognitif dan afektif, dan seterusnya meningkatkan intelek mereka yang berkarakter. (24)

--Sule Subaweh, staf Univer­sitas Ahmad Dahlan, pemer­hati masalah pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar