Minggu, 30 Mei 2010

META KECERDASAN: INTEGRASI KECERDASAN INTELEKTUAL, EMOSIONAL DAN SPIRITUAL

I. PENDAHULUAN
Dalam dekade terakhir, dunia psikologi dan pendidikan dikejutkan oleh berbagai penemuan-penemuan monumental tentang potensi kecerdasan manusia. Pada abad ke dua puluh, kecerdasan intelektual (IQ) sempat menemukan momentumnya sebagai satu-satunya alat untuk ‘menakar’ dan mengukur kecerdasan manusia. Selama bertahun-tahun, kita begitu terpesona dengan penemuan Barat tentang IQ. Bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang memiliki nilai intelektual yang tinggi yang dapat diukur secara kuantitatif melalui berbagai tes kecerdasan. For long, the world gave much importance to intelligence quotient, kata Cherian P. Tekkeveettil. Sehingga, saat itu, orang tua dengan begitu bangganya mengatakan : my son has an IQ of 210. He is going to be scientist”.
Namun pada pertengahan 1990-an, Daniel Goleman menunjukkan penemuan barunya, bahwa kecerdasan manusia tidak hanya bisa diukur dengan IQ; ada jenis kecerdasan lain yang lebih penting dari IQ, yaitu EQ (Emotional Quotient).
Baca Selengkapnya
Lebih jauh Goleman mengatakan bahwa EQ is more important than IQ for success in bussiness and relationship. Ia menunjukkan bukti empiris dari penelitiannya bahwa orang-orang yang ber-IQ tinggi tidak menjamin untuk sukses. Sebaliknya, orang yang memiliki EQ, banyak yang menempati posisi kunci di dunia eksekutif. Maka runtuhlah legenda tentang IQ yang pernah bertahta dalam kurun waktu yang cukup lama pada abad kedua puluh.
Belum lagi penemuan Goleman ini terasa tuntas dikaji, Di akhir abad ke-20 (1999-an) Danah Zohar dan Ian Marshall menemukan jenis kecerdasan lain, third intelligence, the ultimate intelligence, yaitu SQ (Spiritual Quotient ) atau SI (Spiritual Intelligence). SQ dipandang sebagai kecerdasan tertinggi manusia, yang dengan sendirinya melampaui segi-segi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ).
Kajian makalah ini akan mencoba mengantarkan kita untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan meta kecerdasan, kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual itu, dan bagaimanakah relasi atau hubungan kerja di antara ketiganya tersebut.
II. META KECERDASAN: INTEGRASI KECERDASAN INTELEKTUAL, EMOSIONAL DAN SPIRITUAL
A. Meta Kecerdasan: Redefinisi Makna Kecerdasan
Istilah meta kecerdasan dibentuk dari kata meta dan kecerdasan. Kata meta sendiri diadopsi dari bahasa yunani μετά yang berarti after (setelah), beyond (melebihi/di luar). Dalam bahasa Inggris kata meta merupakan prefiks yang menunjukkan sebuah konsep yang merupakan abstraksi dari konsep lain yang digunakan untuk melengkapi atau menambah konsep yang telah ada sebelumnya. Jadi istilah meta kecerdasan mengandung pengertian mendefinisikan kembali atau merekonstruksi ulang konsep tentang kecerdasan yang telah mapan sebelumnya dalam jangka waktu relatif lama dengan jalan melengkapi atau menambahkan dengan konsep baru.
Menurut Spearman dan Jones, bahwa ada suatu konsepsi lama tentang kekuatan (Power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia dengan gagasan abstrak yang universal, untuk dijadikan sumber tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan demikian dalam bahasa Yunani disebut nous, sedangkan penggunaan kekuatan termaksud disebut noesis. Kedua istilah tersebut kemudian dalam bahasa Latin dikenal sebagai intellectus dan intelligentia, selanjutnya dalam bahasa Inggris masing-masing diterjemahkan sebagai intellect dan intelligence. Transisi bahasa tersebut ternyata membawa perubahan yang mencolok. Intelligence, yang dalam bahasa Indonesia kita sebut inteligensi (kecerdasan), semula berarti penggunaan kekuatan intelektual secara nyata, tetapi kemudian diartikan sebagai suatu kekuatan lain.
Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian intelligensi banyak mengalami perubahan, namun selalu mengandung pengertian bahwa intelligensi merupakan kekuatan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu. Para ahli psikologi lebih suka memusatkan perhatian pada masalah perilaku inteligen (intelligence behavior), dari pada membicarakan batasan inteligensi. Mereka beranggapan bahwa intelligensi adalah status mental yang tidak memerlukan definisi, sedang perilaku inteligen lebih konkret batasan dan identifikasinya. Di antara cirri-ciri perilaku tersebut adalah (1) adanya kemampuan memahami dan menyelesaikan problem mental dengan cepat, (2) kemampuan mengingat, (3) kreatifitas yang tinggi, dan (4) imajinasi yang berkembang.
Hagenhan dan Oslon mengungkapkan pendapat Piaget tentang kecerdasan yang didefinisikan sebagai suatu tindakan yang menyebabkan terjadinya penghitungan atas kondisi-kondisi yang secara optimal bagi organism dapat hidup berhubungan dengan lingkungan secara efektif.
Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memahami dunia, berfikir secara rasional dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan, Sementara itu Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif.
Masyarakat umum mengenal intelligence sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, kemampuan berfikir seseorang atau kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi. Persepsi ini tidak bisa dipungkiri, apalagi sejarah telah mencatat bahwa sejak tahun 1904, Binet seorang ahli psikologi berbangsa Perancis telah berhasil membuat suatu alat untuk mengukur kecerdasan, yang disebut dengan intelligence Quotient (IQ).
Sejak saat itu, kecerdasan selalu diartikan sempit, yaitu sebagai kemampuan menyerap, mengolah, mengekspresikan, mengantisipasi dan mengembangkan hal-hal yang berkenaan dengan pengetahuan, ilmu dan teknologi. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa kecerdasan diartikan sebagai kemampuan berfikir. Jadi kecerdasan intelligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berfikir secara rasional. Kemampuan ini diukur dengan pengukuran yang bersifat skolastik meliputi kemampuan logika berfikir dan kemampuan berbahasa. Hasil pengukuran kemampuan inilah yang disebut dengan intelligence quotient (IQ).
Seiring dengan perkembangan pengetahuan, maka ditemukan tipe kecerdasan lainnya melalui penelitian-penelitian empiris dan longitudinal oleh para akademisi dan praktisi psikologi. Setelah 80 tahun IQ diperkenalkan, Gardner, menentang pendapat lama tentang IQ. Ia merumuskan kecerdasan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah, atau menciptakan produk mode yang merupakan konsekuensi dalam suasana budaya atau masyarakat tertentu.
Penelitian Gardner telah menguak rumpun kecerdasan manusia yang lebih luas dari pada apa yang dipahami dan diyakini sebelumnya, serta menghasilkan konsep kecerdasan yang sungguh pragmatis dan menyegarkan. Gardner tidak memandang kecerdasan manusia berdasarkan skor tes standar semata, namun Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai: (1) kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia; (2) kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan; (3) kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.
Kemudian Gardner mengemukakan tujuh kecerdasan dasar, yaitu (1) Kecerdasan Musik (Musical Intelligence); (2) Kecerdasan Gerakan Badan (Bodily Kinesthetic Intelligence); (3) Kecerdasan Logika Matematika (Logical Mathematical Intelligence); (4) Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence); (5) Kecerdasan Ruang (Spatial Intelligence); (6) Kecerdasan Antarpribadi (Interpersonal Intelligence); (7) Kecerdasan Intrapribadi (Intrapersonal Intelligence).
Konsepsi Gardner banyak menginspirasi ahli-ahli lain untuk meneliti lebih jauh tentang kecerdasan majemuk ini, sehingga lahirlah tipe-tipe kecerdasan lain yang mungkin belum tercakup dalam kriteria kecerdasan yang dirumuskan oleh Gardner. Dalam kaitan inilah, meta kecerdasan menunjukkan perspektif yang lebih luas tentang makna kecerdasan. Meta kecerdasan dapat diartikan sebagai sebuah konsep untuk memunculkan atau menghadirkan konsep lain dengan jalan menambahkan pada konsep kecerdasan yang lama. Kecerdasan tidak hanya dipandang sebatas kecerdasan intelektual semata, tetapi dengan meta kecerdasan, kecerdasan dikaji sebagai fakta yang beragam adanya. Kecerdasan bersifat multiple.


B. Pemetaan Tiga Paradigma Kecerdasan.
1. Paradigma Kecerdasan Intelektual (IQ)
Selama ini kita hanya diperkenalkan dengan IQ sebagai standar pertama dan utama kecerdasan kita. Semakin tinggi tes IQ kita, pada umumnya kita pun dikatakan memiliki kualitas kecerdasan intelektual yang tinggi dan kemudian kita, untuk mudahnya, dianggap sebagai orang “pintar” dan bahkan “brilian”. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tes IQ kita, semakin rendah pula derajat kecerdasan intelektual kita, dan kemudian kita dicap sebagai orang bodoh.
Dalam paradigma IQ, kecerdasan seseorang ditentukan melalui tes kecerdasan yang populer dengan sebutan School Aptitude Test (SAT). Howard Gardner, ahli psikologi Harvard School of Education, Amerika Serikat mengakui bahwa masa-masa kejayaan tes IQ dimulai sejak Perang Dunia I, saat dua juta pria Amerika dipilih melalui tes IQ pertama secara massal. Tes IQ tersebut baru saja selesai disusun oleh Lewis Terman, seorang ahli psikologi dari Universitas Stanford. Ini mengantarkan kita menuju dekade-dekade yang oleh Gardner disebut sebagai “cara berfikir IQ”: “bahwa orang itu entah cerdas atau tidak terlahir secara demikian; bahwa tak ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Dengan kata lain kecerdasan bersifat taken for granted”.
IQ adalah kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental. Unsur-unsur yang terdapat di dalam IQ adalah kecerdasan numeris, pemahaman verbal, kecepatan perseptual, penalaran induktif, penalaran deduktif,visualisasi ruang, ingatan. Menurut David Wechsler (Staff IQ-EQ), inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Ia merupakan kecerdasan untuk menerima, menyimpan dan mengolah infomasi menjadi fakta. Orang yang kecerdasan intelektualnya baik, baginya tidak ada informasi yang sulit, semuanya dapat disimpan dan diolah, untuk pada waktu yang tepat dan pada saat dibutuhkan diolah dan diinformasikan kembali. Proses menerima , menyimpan, dan mengolah kembali informasi, (baik informasi yang didapat lewat pendengaran, penglihatan atau penciuman) biasa disebut "berfikir". Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Inti kecerdasan intelektual ialah aktifitas sebagian kecil otak. Kecerdasan intelektual terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Lapisan luar otak (neo-cortex) hanya dimiliki oleh manusia, tidak dimiliki oleh makhluk lain. Otak adalah organ luar biasa dalam diri manusia. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat badan kita. Namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan. Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan. Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang jenius memakainya 5-6 %. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa memori sekitar 94 %.
Model kecerdasan IQ banyak diilustrasikan dengan komputer yang memiliki tingkat “IQ” yang tinggi, karena dapat beroperasi dengan cepat, hampir tanpa kesalahan sama sekali. Kualitas (otak) kecerdasan manusia yang memiliki tingkat IQ yang tinggi seringkali diumpamakan dengan tingkat kecanggihan “kecerdasan” komputer. Tentu saja harus diakui bahwa otak manusia jelas jauh lebih kompleks dibandingkan dengan komputer. Otak tersusun dari daging dan darah, sementara komputer dibuat dari cip silikon. Otak dapat difungsikan untuk berfikir secara rasional, sementara komputer difungsikan sebagai mesin berfikir secara mekanistis.
2. Paradigma Kecerdasan Emosional (EQ)
Paradigma kecerdasan intelektual (IQ) sebagai satu-satunya parameter kecerdasan manusia runtuh tatkala fakta empiris dari temuan riset berbicara lain. Sejak dipublikasikannya Emotional Intelligence (EQ) tahun 1995, temuan riset terbaru Goleman yang mengagumkan berhasil menjungkirbalikkan mitos selama ini. Risetnya menunjukkan bagaimana banyak orang-orang yang ber-IQ tinggi gagal dan orang-orang yang ber-IQ sedang-sedang justru menjadi sukses. Pasti ada faktor lain untuk menjadi cerdas, yang kemudian dipopulerkan oleh Goleman dengan kecerdasan emosional (EQ). Goleman berkesimpulan bahwa setinggi-tingginya IQ hanya menyumbang kira-kira 20 persen bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, sementara yang 80 persen diisi oleh faktor-faktor kecerdasan lain yang disebutnya sebagai kecerdasan emosional.
Memang agak sedikit aneh dan menjadi pertanyaan besar, bagaimana membawa kecerdasan pada emosi? atau sebaliknya bagaimana membawa emosi ke wilayah kecerdasan. Fakta selama ini sering berbicara lain, emosi kerap kali membawa kita pada sikap amarah. Padahal amarah itu sendiri lazimnya menjerumuskan kita pada sikap tak terpuji. Sebenarnya, dengan paradigma kecerdasan emosional (EQ), emosi kita hendak dikenali, disadari, dikelola, dimotivasi, dan bahkan diarahkan pada kecerdasan.
Emosi adalah persepsi perubahan jasmaniah yang terjadi dalam memberikan tanggapan (respons) terhadap suatu peristiwa. Kata Emosi secara sederhana bisa didefinisikan sebagai menerapkan “gerakan” baik secara metafora maupun harfiyah, untuk mengeluarkan perasaan. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang ditanamkan secara berangsur-angsur oleh evolusi. Emosi sejak lama dianggap memiliki kedalaman dan kekuatan sehingga dalam bahasa latin, emosi dijelaskan sebagai motus anima yang arti harfiyahnya “jiwa yang menggerakkan kita”. Berlawanan dengan kebanyakan pemikiran konvensional, menurut Cooper dan Sawaf, emosi bukan sesuatu yang bersifat positif atau negatif, tetapi emosi berlaku sebagai sumber energi autentisitas, dan semangat manusia yang paling kuat dan dapat menjadi sumber kebijakan intuitif. Dengan kata lain, emosi tidak lagi dianggap sebagai penghambat dalam hidup kita, melainkan sebagai sumber kecerdasan, kepekaan, kedermawanan, bahkan kebijaksanaan.
Kecerdasan emosi merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir; berempati dan berdo’a.
Menurut Saphiro, istilah kecerdasan emosi pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh dua orang ahli, yaitu Peter Salovey dan John Mayer untuk menerangkan jenis-jenis kualitas emosi yang dianggap penting untuk mencapai keberhasilan. Jenis-jenis kualitas emosi yang dimaksudkan antara lain: (1) empati, (2) mengungkapkan dan memahami perasaan, (3) mengendalikan amarah, (4) kemampuan kemandirian, (5) kemampuan menyesuaikan diri, (6) diskusi, (7) kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, (8) ketekunan, (9) kesetiakawanan, (10) keramahan, dan (11) sikap hormat.
Teori lain dikemukakan oleh Reuven Bar-On, sebagaimana dikutip oleh Steven J. Stein dan Howard E. Book, ia menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan nonkognitif yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan. Selanjutnya, Steven J. Stein dan Howard E. Book menjelaskan pendapat Peter Salovey dan John Mayer, pencipta istilah kecerdasan emosional, bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.
Keterampilan kecerdasan emosi bekerja secara sinergi dengan keterampilan kognitif, orang-orang yang berprestasi tinggi memiliki keduanya. Makin kompleks pekerjaan, makin penting kecerdasan emosi. Emosi yang lepas kendali dapat membuat orang pandai menjadi bodoh. Tanpa kecerdasan emosi, orang tidak akan mampu menggunakan kemampuan kognitif mereka sesuai dengan potensi yang maksimum.
Kecerdasan emosional bukanlah muncul dari pemikiran intelek yang jernih, tetapi dari pekerjaan hati manusia. Emotional Intelligence bukanlah trik-trik tentang penjualan atau menata sebuah ruangan, dan bukan tentang memakai topeng kemunafikan atau psikologi untuk mengendalikan, mengeksploitasi, atau memanipulasi seseorang.
Berbeda dari IQ yang merupakan faktor genetik sehingga tidak dapat berubah dan dibawa sejak lahir, EQ dapat disempurnakan dengan kesungguhan, pelatihan, pengetahuan, dan kemauan.
Goleman menjelaskan pendapat Salovey yang menempatkan kecerdasan pribadi Gardner sebagai dasar dalam mendefinisikan kecerdasan emosional yang dicetuskannya. Dalam hal ini Salovey memperluas kemampuan kecerdasan emosional menjadi lima wilayah utama, yaitu sebagai berikut:
a. Mengenali emosi diri. Intinya adalah kesadaran diri, yaitu mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Ini merupakan dasar kecerdasan emosional. Kesadaran diri adalah perhatian terus-menerus terhadap keadaan batin seseorang.
b. Mengelola Emosi. Yaitu menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas. Kecakapan ini bergantung pula pada kesadaran diri. Mengelola emosi berhubungan dengan kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan, dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar.
c. Memotivasi diri sendiri. Termasuk dalam hal ini adalah kemampuan menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi, begitu juga kemampuan untuk pengendalian diri.
d. Mengenali emosi orang lain. Kemampuan empati yaitu kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain, ikut berperan dalam pergulatan dalam arena kehidupan.
e. Membina hubungan. Seni membina hubungan sebagian besar merupakan keterampilan mengelola orang lain. Keterampilan ini menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antarpribadi.

Sementara itu, Steven J. Stein dan Howard E. Book menjelaskan penemuan Reuven Bar-On yang merangkum kecerdasan emosional dan dibaginya ke dalam lima area atau ranah yang menyeluruh, dan 15 subbagian atau skala. Kelima ranah kecerdasan tersebut, yaitu (1) ranah intrapribadi, meliputi: kesadaran diri, sikap asertif, kemandirian, penghargaan diri, dan aktualisasi diri; (2) ranah antarpribadi, meliputi: empati, tanggung jawab sosial, hubungan antarpribadi; (3) ranah penyesuaian diri, mencakup: Uji realitas, sikap fleksibel dan pemecahan masalah; (4) ranah pengendalian stress, meliputi: ketahanan menanggung stress,dan pengendalian impuls; (5) ranah suasana hati umum, terdiri dari: optimisme, kebahagiaan.
Dalam bahasa agama , EQ adalah kepiawaian menjalin "hablun min al-nās". Pusat dari EQ adalah "qalbu". Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak. Hati adalah sumber keberanian dan semangat , integritas dan komitmen. Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdalam yang memberi dorongan untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani.

3. Paradigma Kecerdasan Spiritual (SQ).
Wacana kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) merupakan temuan paling mutakhir di antara jenis Quotient yang lain. Kecerdasan ini pertama kali digagas oleh Danar Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. SQ mulai populer pada awal abad 21 melalui tulisan Danar Zohar dalam bukunya Spiritual Capital dan berbagai tulisan lainnya.
Kecerdasan spiritual diyakini sebagai kecerdasan yang paling utama dibandingkan dengan berbagai jenis kecerdasan yang lain. Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berarti roh atau jiwa. Kata ini berasal dari bahasa Latin, spiritus, yang berarti napas. Roh bisa diartikan sebagai energi kehidupan yang membuat manusia dapat hidup, bernapas dan bergerak. Spiritual berarti pula segala sesuatu di luar fisik, termasuk pikiran, perasaan, dan karakter kita.
Kecerdasan spiritual berarti kemampuan seseorang untuk dapat mengenal dan memahami diri seseorang sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta. Dengan memiliki kecerdasan spiritual berarti bisa memahami sepenuhnya makna dan hakikat kehidupan yang kita jalani dan ke manakah kita akan pergi.
Dalam beberapa bagian bukunya Zohar dan Marshal mencoba menyoroti hubungan antara agama dan SQ. Pada umumnya orang beranggapan bahwa SQ selalu berhubungan dengan agama. Menurut keduanya, SQ berbeda dengan agama. Agama merupakan aturan-aturan dari luar sedangkan SQ adalah kemampuan internal. Sesuatu yang menyentuh dan membimbing manusia dari dalam. SQ mampu menghubungkan manusia dengan ruh esensi di belakang semua agama. Orang yang SQ-nya tinggi tidak picik dan fanatik atau penuh prasangka dalam beragama.
Pengertian spiritualitas yang dikemukakan oleh Zohar dan Marshall tidak selalu mengkaitkan dengan masalah ketuhanan, sebab menurut mereka seorang yang humanis ataupun atheis pun dapat memiliki spiritualitas tinggi. Bagi mereka, kecerdasan spiritual lebih banyak terkait dengan masalah makna hidup, nilai-nilai dan keutuhan diri. Kesemuanya tidak perlu berkait dengan masalah ketuhanan. Orang dapat menemukan makna hidup dari bekerja, belajar, berkarya bahkan ketika menghadapi problematika dan penderitaan. Di sini tampak bahwa Zohar dan Marshall menempatkan agama hanya sebagai salah satu cara mendapatkan SQ tinggi. Pemahaman spiritualitas yang semacam ini tentu banyak mendapat koreksi dan kritikan dari ahli lain.
Zohar dan Marshall mengikutsertakan aspek konteks nilai sebagai suatu bagian dari proses berpikir/berkecerdasan dalam hidup yang bermakna, untuk ini mereka mempergunakan istilah kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas hanif dan ikhlas . SQ adalah suara hati Ilahiyah yang memotivasi seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat.
Dr. Marsha Sinetar, yang terkenal luas sebagai pendidik, pengusaha dan penulis buku-buku best seller, menafsirkan kecerdasan spiritual sebagai pemikiran yang terilhami. Kecerdasan spiritual adalah cahaya, ciuman kehidupan yang membangunkan keindahan tidur kita. Kecerdasan spiritual membangunkan orang-orang dari segala usia, dalam segala situasi.
Temuan ilmiah yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, dan riset yang dilakukan oleh Michael Persinger pada tahun 1990-an, serta riset yang dikembangkan oleh V.S. Ramachandran pada tahun 1997 menemukan adanya God Spot atau God Module dalam otak manusia, yang sudah secara built-in merupakan pusat spiritual (spiritual centre), yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak. Begitu juga hasil riset yang dilakukan oleh Wolf Singer menunjukkan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan yang secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam.
Menurut Roberts A. Emmons dalam buku The Psychology of Ultimate Concerns, ada lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual yaitu kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material, kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak, kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari, kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah dan kemampuan untuk berbuat baik. Menurut Emmons, dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual.
Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Dia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Dia merujuk pada warisan spiritual seperti teks-teks Kitab Suci untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi.
Orang yang ber SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Manusia yang memiliki SQ tinggi cenderung akan lebih bertahan hidup dari pada orang yang ber SQ rendah. Banyak kejadian-kejadian bunuh diri karena masalah yang sepele, mereka yang demikian itu tidak bisa memberi makna yang positif sari setiap kejadian yang mereka alami dengan kata lain SQ atau kecerdasan spiritual mereka sangat rendah.


C. Keterkaitan dan Hubungan Kerja antara IQ, EQ dan SQ
Setelah memetakan tiga paradigma kecerdasan, yakni kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ), berikutnya akan coba dibahas konstruksi atau pola relasi diantara ketiganya. Pola relasi ini mengandaikan terjadinya relasi positif antara IQ, EQ dan SQ, meskipun tetap mengakui adanya diferensiasi.
Sadar atau tidak, potensi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual itu ada dalam keseluruhan diri kita sebagai manusia. Kecerdasan intelektual mencakup unsur logis (matematika) dan linguistik (verbal atau bahasa). Kecerdasan emotional mencangkup unsur interpersonal dan intrapersonal. Sementara kecerdasan spiritual adalah bagaimana mengkhayati dan mengabdikan diri –beribadah- kepada khalik (sang pencipta).
Ketiga tipe kecerdasan tersebut akan berfungsi maksimal jika saling berkaitan erat satu sama lain. Menurut Ary Ginanjar Agustian, Semua potensi kecerdasan itu akan terintegrasi apabila orientasi hidup kita adalah ketauhidan, menerima Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Namun jika orientasi hidup kita adalah materi, maka tiga potensi kecerdasan tersebut akan terpisah.
Selanjutnya ia menjelaskan, jika kita berorientasi pada materi, saat masalah datang pada kita, radar hati akan bereaksi menangkap sinyal emosi yang tidak terkendali, dan muncul rasa marah, sedih, kesal dan takut. Akibat emosi yang tidak terkendali god spot menjadi terbelenggu dan suara hati ilahiyah tidak memiliki peluang untuk muncul dan didengar, sehingga suara hati yang bersifat mulia itu (SQ) tidak mampu berkolaborasi dengan kecerdasan lainnya (EQ dan IQ). Saat suara hati tertutup, emosi akan memerang peranan. Emosilah yang akan memberi perintah pada kecerdasan intelektual. IQ selanjutnya akan menghitung, tapi berdasarkan dorongan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, iri hati dan kedengkian. Yang terjadi kemudian adalah kekacauan dan masalah tidak mampu dicari solusinya.
Berbeda halnya ketika orientasi kita kepada ketauhidan. ketika masalah atau tantangan muncul, radar hati langsung menangkap getaran sinyal. Ketika sinyal itu menyentuh dinding tauhid, kesadaran tauhid akan mengendalikan emosi. Hasilnya adalah emosi yang terkendali seperti rasa tenang. Dengan emosi yang terkendali, God Spot akan terbuka dan bisa bekerja. Maka terdengarlah bisikan-bisikan ilahiyah yang mengajak kepada sifat-sifat keadilan, kasih-sayang, kejujuran, kepedulian dan lainnya. Dengan dorongan sifat mulia itu, potensi kecerdasan intelektual bekerja optimal, dengan melakukan perhitungan yang berlandaskan pada nilai-nilai mulia suara hati. Inilah yang disebut dengan meta kecerdasan, yaitu integrasi EQ, IQ dan SQ.
Ketauhidan mampu menstabilkan tekanan amygdala (sistem saraf pusat), sehingga emosi terkendali (EQ tinggi). Emosi yang terkendali akan mengoptimalkan fungsi kerja God Spot pada lobus temporal, serta mengeluarkan potensi suara hati ilahiyah. Suara hati ilahiyah itu member informasi penting sehingga manusia mampu menghasilkan keputusan sesuai garis orbit spiritualitas (SQ tinggi). Maka langkah konkret mampu diambil, berupa perhitungan logis (IQ), yang bergerak pada manzilah, atau garis edar yang mengorbit pada Allah Yang Maha Esa (SQ).
Dalam perspektif neuroscience Ketiga bentuk kecerdasan ini (IQ, EQ, dan SQ), mempunyai akar-akar neurobiologis di otak manusia. Fakta menyatakan bahwa otak menyediakan komponen anatomisnya untuk aspek rasional (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Ini artinya secara kodrati, manusia telah disiapkan dengan tiga aspek tersebut. Kecerdasan emosional ada di sistem limbik, alias otak dalam, yang terdiri dari thalamus, hypothalamus dan hippocampus. Kecerdasan intelektual ada di korteks serebrum atau otak besar. Sedangkan kecerdasan spiritual mempunyai dasar neurofisiologis pada osilasi frekuensi gamma 40 Hertz yang bersumber pada integrasi sensasi-sensasi menjadi persepsi obyek-obyek dalam pikiran manusia.
Dalam perspektif Islam, dikenal istilah aql, qalb dan fuad sebagai pusat IQ , EQ dan SQ menunjukkan bahwa Islam memberikan apresiasi yang sama terhadap ketiga sistem kecerdasan tersebut. Hubungan ketiganya dapat dikatakan saling membutuhkan dan melengkapi . Namun kalau akan dibedakan, maka SQ merupakan "Prima Causa" dari IQ dan EQ. SQ mengajarkan interaksi manusia dengan al-Khaliq , sementara IQ dan EQ mengajarkan interaksi manusia dengan dirinya dan alam di sekitarnya. Tanpa ketiganya bekerja proporsional, maka manusia tidak akan dapat menggapai statusnya sebagai "Khalifah" di muka bumi. Oleh karena Islam memberikan penekanan yang sama terhadap "hablun min Allāh" dan "hablun min al-nās", maka dapat diyakini bahwa keseimbangan IQ, EQ dan SQ merupakan substansi dari ajaran Islam. Penggabungan ketiga hal ini akan menghasilkan manusia-manusia paripurna yang siap menghadapi hidup dan menghasilkan efek kesuksesan atas apa yang dilakukannya.
IQ, EQ & SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri kita, sehingga tidak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan. mengabaikan salah satu dari ketiga bentuk kecerdasan berbasis neuroscience di atas adalah sesuatu kekeliruan, demikian juga jika mengagungkan salah satu diantaranya merupakan kesalahan. Pentingnya keseimbangan ketiga kecerdasan ini untuk menjadi seorang yang paripurna .
Penggabungan antara kecerdasan spiritual dengan kecerdasan intelektual dalam berbagai hal akan melahirkan “idealisme” dalam diri yang dalam konstektualnya lebih benyak membentuk wilayah-wilayah individual (catra pribadi). Sedangkan penggabungan antara ketiga kecerdasan tersebut yakni intelektual-spiritual dan emosional memunculkan tipe-tipe kecerdasan baru hingga pencapaian kecerdasan dialektis.
III. PENUTUP
A. Simpulan
Dari pembahasan di atas dapat kami tarik beberapa simpulan sebagai berikut:
1. Meta kecerdasan adalah konsep kecerdasan dengan perspektif majemuk. Kecerdasan tidak hanya ditakar dari kecerdasan intelektualnya IQ) saja, tetapi bahwa manusia ternyata juga memiliki potensi kecerdasan lain yang bahkan lebih penting yaitu kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).
2. Kecerdasan intelektual (IQ) adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Sedangkan Kecerdasan emosi (EQ) merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir; berempati dan berdo’a. Adapun Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas hanif dan ikhlas.
3. IQ, EQ & SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconected) di dalam diri kita, sehingga tidak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi, karena ia bisa menjembatani dan lebih memfungsikan dua kecerdasan lain yaitu IQ dan EQ secara lebih efektif. Hubungan ketiganya dapat dikatakan saling membutuhkan dan melengkapi. Namun jika hendak dibedakan, maka SQ merupakan prima causa dari IQ dan EQ. Kecerdasan spiritual mengajarkan interaksi manusia dengan al-Khaliq, sementara IQ dan EQ mengajarkan interaksi manusia dengan dirinya dan alam sekitarnya.
B. Penutup
Demikian makalah sederhana ini kami susun, tentunya banyak terdapat kekurangan dan kelemahan. Untuk itu saran, masukan dan kritik konstruktif kami sangat harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
























DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Ary Ginanjar, ESQ, (Jakarta: Arga, 2002).
__________________, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al Ihsan, (Jakarta: Arga, 2003).
Armansyah, “Intelegency Quotient, Emotional Quotient, Spiritual Quotient dalam Membentuk Perilaku Kerja” dalam Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis, Vol 02 No. 01. April 2002. Fak. Ekonomi. Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara.
Cooper, Robert K., dan Ayman Sawaf, Executif EQ: Emotional Intelligence in Leadership and Organization, Executif EQ: Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi (Terj. Alex tri Kantjono W), (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998).
Echols , John M., dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia, 1992).
Gardner, Howard, Multiple Intelligence, Kecerdasan Majemuk: Teori dalam Praktik (Terj. Alexander Sindoro), (Jakarta: Interaksara, tt).
Gardner, Linda, Bruce Cambell dan Dee Dickinson, Teaching and Learning Through Multiple Intelligence, Multiple Intelligence: Metode Terbaru Melesatkan Kecerdasan, (Terj. Tim Inisiasi), (Depok: Inisiasi, 2002).
Goleman, Daniel, Emotional Intelligence. Kecerdasan Emosional Mengapa EI lebih Penting dari pada IQ. (Terj. Hermaya), (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999).
_____________, Working With Emotional Intelligence, Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi, (Terj. Alex Tri Kantjono Widodo), (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999).
http/www.uiuc.edu/ro/ICFS/paper/spiritual/intel.pdt
http:/wikipidea.org/meta.
Mini,Rose, Panduan Mengenal dan Mengasah Kecerdasan Majemuk Anak, (Jakarta: Indocam Prima, 2007).
Mustofa, Zainal, dalam http://zai-mustafa.blogspot.com/2009/06/iq-eq-dan-sq.html
Robin, Stephen P., Perilaku Organisasi. Konsep. Kontroversi. Aplikasi (Penerjemah: Hadyana Pujaatmaka dan Benyamin Molan), (Jakarta: Penerbit Prenhallindo.1996).
Saphiro, Lawrence E., How To Raise A Child With A High EQ: A Present Guide to Emotional Intelligence (terj. A.T. Kancono), (Jakarta: Gramedia, 1997).
Satiadarma, Monty P., dan Fidelis E. Waruwu, Mendidik Kecerdasan, Pedoman bagi orang tua dan guru dalam mendidik anak yang cerdas,(Jakarta:Pustaka Populer Obor, 2003).
Sinetar, Marsha, Spiritual Intelligence, Kecerdasan Spiritual: Belajar dari Anak yang mempunyai Kesadaran Dini, (Terj. Soesanto Boedidarmo), (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2001).
Stein, Steven J., dan Howard E. Book, The EQ Edge: Emotional Intelligence and Your Success, Ledakan EQ: 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses, (Terj. Trinanda Rainy Januarsari dan Yudhi Murtanto), (Bandung:Kaifa, 2002)
Sukidi, Rahasia Sukses Hidup Bahagia Kecerdasan Spiritual Mengapa SQ lebih penting dari pada IQ dan EQ, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004).
Tekkeveettil, Cherian P., Now It’s SQ, dalam http://www.lifepositive.com/mind /evolution/iq-genius/intelligence.asp
Umar, Nasruddin. 2002. Isyarat-isyarat EQ dalam Al-Qur’an. http://www.harrysufehmi.com/sg2002/Materi/ProfDr_Nasaruddin_Umar_MA/
Uno, Hamzah B., Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006).
_____________, Pengantar Psikologi Pembelajaran, (Gorontalo: Nurul Jannah, 2002).
Winarno , A., dan Tri Saksono, Kecerdasan Emosional, (Jakarta: LAN, 2001).
Yahdillah, Kecerdasan Spiritual menentukan Jati Diri, dalam http://www.ilmupsikologi.com/?p=261

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar